Come Back When You Hear This Song

Come Back When You Hear This Song

11760225_958836787492433_4020469360602151648_n_%e5%89%af%e6%9c%ac-2

Cast:

Park Jiyeon

Kim Jaejoong

Jiyeon POV

Chagi, kau mengabaikanku lagi.”

Aku menoleh kearah namja tampan atau bisa dibilang cantik yang sekarang adalah nampyeonku lalu tersenyum.

Mianhae oppa.” Ujarku lalu terkekeh geli. Aku menutup novel yang sedang kubaca.

“Ish kau ini.” Jaejoong oppa sedikit merajuk membuat wajahnya sangat lucu. Jaejoong oppa lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku. “Chagi, bogoshipeo.” Ujarnya lalu membenamkan kepalanya di perutku.

“Aish oppa, geli.” Jaejoong oppa yang kini terkekeh geli. “Oppa kita kan bertemu setiap hari, kenapa merindukanku?”

Molla, aku selalu merindukanmu. Apalagi saat aku pergi tour tanpa dirimu.” Jawabnya santai.

Aigoo, oppa kau ini.”

Jaejoong oppa tertawa geli, tangan kanannya meraih pipiku dan mencubitnya gemas. Pandangan kami bertemu, perlahan wajah kami pun mendekat hingga bibir Jaejoong oppa menghapus jarak kami dan menempel lembut di bibirku. Ciuman itu hanya sebentar, namun manis, seperti biasa.

Saranghae, yongwonhi.” Ucap Jaejoong oppa sembari mengusap pipiku.

Nado saranghae oppa.” Aku tersenyum, menunjukan senyumku yang paling manis.

Ingatanku melayang kesaat-saat pertama kami bertemu hingga bisa menjadi suami-istri seperti sekarang.

Flashback

Namaku Park Jiyeon, mahasiswa semester tiga di Sungkyukwan University. Aku bukan dari keluarga yang berlimpah harta. Untuk tambahan biaya hidup di universitas, aku mengambil beberapa kerja part time. Seperti sekarang ini. Sekarang aku bekerja sebagai office girl disalah satu agensi pencari bakat ternama. Tujuanku bekerja disini bukan hanya untuk uang. Tapi lebih karna aku penggemar berat salah satu artis disini kkk.

Kim Jaejoong adalah seorang penyanyi solo yang sedang naik daun. Lagu-lagunya sangat manis dengan untaian kata yang indah. Nada-nadanya juga mengalun lembut dan membuat telinga ketagihan. Lagu-lagu Kim Jaejong kebanyakan tentang percintaan anak remaja, karena itulah aku suka.

“Jiyeon-ssi.” Seseorang memanggilku saat aku tengah membersihkan kaca jendela lobi kantor agensi.

“Oh, manager-nim. Annyenghaseyo!” ujarku sembari membungkukan badan.

Ne annyeonghaseyo. Jiyeon-ssi, aku ingin menawarkan pekerjaan tambahan untukmu sebagai asisten pribadi Jaejoong. Hanya sementara karna asisten pribadinya yang sekarang sedang mengambil cuti. Kau tenang saja, gajimu akan aku naikkan.” Ujar manager-nim.

Menjadi asisten pribadi seorang Kim Jaejoong? Apa aku mimpi? Ini sungguhan kan? Eommo eommo.

“Tentu saja aku mau, manager-nim.” Ucapku  berbunga-bunga. Kau bercanda jika aku menolak pekerjaan seperti ini. Gajiku tidak dinaikkan pun tidak apa-apa asalkan aku bisa melihat wajah cantik Kim Jaejoong dari dekat setiap hari.

“Ah, baguslah. Aku harap kau bisa bersabar menghadapi tingkahnya.” Kata manager-nim sebelum berlalu. “Ah satu lagi. Kau bekerja mulai hari ini, Jiyeon-ssi.”

Menjadi asisten pribadi Jaejoong adalah impian semua remaja wanita dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku tidak sabar untuk bekerja dengan Kim Jaejoong.

Dengan langkah ringan karna terlalu senang aku melangkah menuju ruangan Kim Jaejoong. Kira-kira Kim Jaejoong orang yang seperti apa ya? Apa dia akan sehangat lagu-lagunya? Atau sekeren penampilan panggungnya? Aku benar-benar sudah tidak sabar.

Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, aku masuk ke ruangan pribadi Kim Jaejoong.

Annyenghaseyo, aku Park Jiyeon. Mulai hari ini aku akan menjadi asisten pribadi anda. Eh…”

Apa-apaan ini?! Yang sedang kulihat saat ini adalah Kim Jaejoong yang sedang bertelanjang dada dengan seorang wanita dengan baju yang sudah acak-acakan dibawahnya. Oh, aku baru sadar kalau kedua tangan wanita itu terikat diatas kepalanya.

“Kau bisa tunggu setelah aku selesai dengan perempuan ini. Kau berikutnya.” Kata Jaejoong dengan dinginya. Dia tidak menatapku sama sekali.

“Ayo lakukan oppa, aku sudah tidak tahan.” Aku hampir muntah mendengar ucapan yeoja itu.

“Sepertinya kita sudahi saja Hyorin-ah. Aku bosan dengan yang terlalu pasrah sepertimu.” Jaejoong berkata tanpa perasaan sama sekali. Aku hanya mematung melihat semua kejadian ini. Tak tau harus berbuat apa.

“Nah, Park Jiyeon. Hey namamu Park Jiyeon kan? Urusanku dengan gadis itu sudah selesai. Sekarang giliranmu. Kau bilang kau asisten pribadiku yang baru kan? Asisten pribadi berarti bersedia melakukan apa saja.”

Mwoya? Apa namja ini gila? Mungkin ini alasan manager-nim menyuruhku untuk bersabar. Aigoo kenapa Jaejoong asli sangat berbeda dengan bayanganku selama ini -_-

“Hei neo gwenchana? Apa kau ketakutan eoh? Haha kau tenang saja, aku hanya bercanda. Aku tidak memakan anak SMP sepertimu.”

“Mwoya? Yak, asal kau tau, aku sudah kuliah. Aku ini seorang mahasiswa.” Kataku kesal.

Jinjja? Kau seperti anak-anak. Kau bahkan terlihat rata, tidak mempunyai dada.”

Mukaku memerah seketika. Kami baru bertemu dan dia sudah mengamatiku sedetail ini.

“Yak ahjussi, aku punya dada tau.” Ujarku kesal, “Walaupun kecil.” Ucapku lirih.

Tawa Jaejoong meledak seketika dan dia mengabaikan Hyorin. Eommo, Hyorin! Aku memalingkan wajah dan mendapati Hyorin tengah menatapku murka. Pakaiannya sudah terpasang kembali. Ia mengambil tas nya dengan kasar dan cepat lalu meinggalkan ruangan dengan kesal.

“Nah Jiyeon-ah, tugas pertamamu sebagai asisten pribadiku adalah menemaniku pergi.” Jaejoong ahjussi langsung menarikku pergi.

Ahjussi, kau yakin akan pergi dengan penampilan seperti itu?” Tanyaku ragu.

“Memangnya ada yang salah denganku? Aku masih tampan kan?” Dia berbalik tanya. Aku menunjuk tubuhnya yang topless dengan wajah polos.

“Oh! Kau benar. Aku tidak mungkin pergi dengan tampilan seperti ini, penggemarku bisa mimisan saat melihat tubuh seksiku.” Ujarnya terlalu percaya diri. Aku hanya menatapnya dengan poker face. “Mmm atau sebaiknya aku tidak usah pakai baju saja?” Dia mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Dasar byuntae! Pakai bajumu sekarang ahjussi!” Aku mendorongnya untuk segera memakai baju. Dia hanya terkekeh tanpa dosa.

***

Kami tiba di resort pribadi milik Jaejoong ahjussi. Resort indah di tepi pantai pasir putih yang sangat indah dan sepi.

“Woaa jadi ini resort pribadimu? Yang sangat rahasia itu? Woaa aku tidak menyangka aku bisa kesini.” Aku berlari-lari kecil begitu tiba disana.

“Yak tugasmu kesini adalah mengurusku dan semua kebutuhanku, mulai dari bersih-bersih vila, memasak, dan lain-lain. Arraseo?

Arraseo ahjussi. Ngomong-ngomong kenapa kita kabur kemari ahjussi?” Ya. Dia mengajakku kabur dari gedung agensinya. Dia bahkan tidak memberi tau managernya.

“Pertama, jangan panggil aku ahjussi. Aku masih muda, kau tau? Wajahku pun belum berkeriput. Kedua, jangan cerewet. Aku kesini untuk menyelesaikan lagu pada album baruku. Aku butuh banyak inspirasi. Jadi kau jangan mengganggu.” Jelasnya panjang lebar.

Arraseo Jaejoong oppa.” Ujarku malas-malasan.

“Sekarang kau bereskan vila dulu.” Dia memerintahku lalu pergi begitu saja.

Vila ini tidak terlalu besar namun sangat nyaman dan cantik. Warnanya didominasi warna putih dan coklat muda. Hanya butuh waktu sebentar untuk membersihkan vila ini mengingat aku sudah terbiasa membersihkan rumah dan gedung agensi. Selesai mengerjakan tugasku, aku langsung lari ke pasir putih. Sudah lama sekali sejak terakhir aku mengunjungi pantai.

“Aku menyuruhmu untuk membersihkan vila bukan untuk bermain.” Jaejoong oppa muncul tiba-tiba dan langsung menjewer telingaku.

“Yak sakit oppa! Lagipula tugasku sudah selesai.”

Jaejoong oppa melihat ke vila. “Kenapa cepat sekali?” ujarnya heran.

“Buatkan aku makanan. Aku lapar.”

Namja itu benar-benar seenaknya sendiri. Batinku.

***

Jaejoong POV

Sudah hampir seminggu aku dan Jiyeon menghabiskan waktu bersama. Seperti sekarang, kami tengah bermain-main di pantai.

“Hei kau, pakai sunblock dulu. Kulitmu bisa terbakar, kau tau?” Ujarku saat melihat Jiyeon meluncur cepat kearah pantai.

“Aish kenapa kau cerewet sekali oppa.” Kata Jiyeon kesal, ia menggembungkan pipinya kebiasaannya saat kesal.

“Kemari biar aku bantu.” Aku mengoleskan sunblock ke kulit Jiyeon yang terekspos matahari.

Kenapa jadi aku yang mengurusnya? Bukankah seharusnya dia yang mengurusku? Dasar anak kecil. Batinku

Kami bermain hingga menjelang malam.

Oppa, bagaimana lagumu? Apa belum selesai juga?” Tiba-tiba Jiyeon bertanya saat aku sedang duduk melamun di beranda atas, memandang bintang-bintang.

“Kau kira membuat lagu itu gampang eoh? Ambilkan aku sekaleng bir lagi.”

“Yak kau mau lari dari kenyataan?” suara Jiyeon sangat nyaring memekakan gendang telingaku.

“Aku bukan anak kecil. Hanya sekaleng bir tidak akan membuatku mabuk.”

“Kau ambil saja sendiri. Aku tidak mau. Aku mau tidur.”

“Yak kau kan asisten pribadiku. Yak Park Jiyeon!” Dia tidak menghiraukan panggilanku dan malah berlari. Dia menengok kebelakang sebentar dan menjulurkan lidahnya, mengejekku.

Aish yeoja itu benar-benar.

Keesokan paginya aku bangun terlalu cepat. Sepertinya Jiyeon belum bangun. Jika dia sudah bangun, tidak mungkin akan sesepi dan setenang ini. Aku berjalan ke kamarnya untuk memastikan.

Kamar Jiyeon tidak terkunci jadi aku bisa dengan mudah masuk kesana. Ia masih terlelap. Kuhampri ranjangnya pelan-pelan, agar dia tidak terbangun. Apa-apaan ini? Dia tidur dengan menggunakan piama beruang! Tawaku hampir meledak. Mati-matian aku menahan agar tidak tertawa. Benar-benar anak kecil, dia tidak terlihat seperti gadis dewasa pada umumnya. Wajahnya pun sangat polos dan memang benar-benar polos. Kuperhatikan dia sama sekali tidak menggunakan make up. Tidak seperti gadis seusianya.

Perlahan aku berbaring disisinya. Kuamati gadis itu diam-diam. Dia cantik, sangat cantik. Tapi bagaimana pun dia hanya anak kecil dan buka termasuk tipeku. Tanganku bergerk dengan sendirinya, mengusap pipi chubbynya yang ternyata sangat halus.

Apa-apaan kau Jaejoong? Dia bukan tipemu.

Sesuatu dibawah sana tiba-tiba mengeras.

Oh damn! Kim Jaejoong bagaimana mungkin kau terangsang dengan gadis kecil sepertinya?! Hey adik kecilku dibawah sana, ini bukan mangsa kita -_-

“Eumm…” Jiyeon menggeliat lalu perlahan matanya terbuka. Tatapan kami langsung bertemu. Dia menatapku, mengerjapkan bulu mata hitam lentiknya. Sepertinya dia belum sepenuhnya sadar.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa….. apa yang kau lakukan disini? Dasar pervert. Byuntae.” Jiyeon langsung memukulku dengan bantal.

“Yak sudah berapa kali kukatakan? Aku tidak suka anak kecil apalagi yang tidak berdada sepertimu.” Aku berusaha mengambil bantal darinya.

“Lalu apa yang kau lakukan disini?” Dia sudah lebih tenang sepertinya. Dia terduduk memandangku.

“Tidak ada.” Jawabku  santai.

“Apa lagumu sudah selesai?”

“Belum ada kemajuan.”

“Yak kapan kau akan menyelesaikannya? Kita sudah kabur seminggu.”

“Entahlah.” Aku sedang malas membahas album baruku. Kupejamkan mataku.

“Jangan tidur! Aish kau ini.” Aku mengabaikan ucapannya.

“Hei oppa, bagaimana kalau kau membuat lagu berdasarkan kisah cintamu?”

“Aku belum pernah jatuh cinta.”

MWO?? Kau bercanda kan?”

“Jangan teriak pagi-pagi seperti ini! Aish! Suaramu sangat cempreng, kau tau?!” Dasar anak kecil, mendengar pengakuanku seperti itu saja dia sampai terkejut dan berteriak.

Oppa, ternyata kau itu manis sekali.” Dia berujar lalu tertawa geli.

Manis? Manis? Dia bilang aku manis?? Oh God! Hancur sudah image ku!

Image ku yang keren.

690744497

Pangeran.

22324-time-slip-dr-jin-jyj-kim-jaejoong

Sexy.

%ea%b9%80%ec%9e%ac%ec%a4%91_%eb%82%a0%ea%b0%9c-%ed%83%80%ed%88%ac-%ec%b9%98%eb%aa%85%ec%a0%81-%ec%98%a4%ed%94%84%eb%8b%9d

Semua hancur seketika saat yeoja kecil itu menyebutku manis.

tumblr_mbro7rw8uj1ri6mp8o1_1280

-_-

Oppa, bagaimana kalau jadikan aku sebagai inspirasi untuk lagumu?” Aku membuka mataku dan memandangnya dengan heran.

“Kau yakin?”

“Emm.” Jawabnya sambil menundukan kepala.

Aku beranjak duduk di depannya. Kuamati dia baik-baik lalu tesenyum. Jiyeon masih sangat polos. Kuangkat dagunya dengan jari telunjuk agar dia bisa melihatku. Perlahan aku mendekatkan wajahku dengannya. Dari jarak sedekat ini, bisa kulihat bibirnya yang mungil dan merah. Saat sudah semakin dekat tiba-tiba dia menahan dengan kedua tangannya di dadaku.

“Ini ciuman pertamaku.” Katanya malu.

“Aku juga.”

“Benarkah? Tapi kau sering melalukan hubungan itu.” Dia menatapku tak percaya.

“Habisnya, aku langsung ke permainan inti.” Aku membungkam bibirnya dengan bibirku, supaya tidak banyak bicara lagi. Bibirnya sangat manis.

Author POV

Jaejoong dan Jiyeon masih berciuman. Awalnya ciuman-ciuman itu hanya ciuman ringan yang manis, lama-kelamaan menjadi lebih panas seiring dengan nafsu yang menguasai mereka. Bibir Jaejoong bahkan kini tak hanya menciumi bibir Jiyeon. Bibir tebal jaejoong bergerilya menuju leher Jiyeon yang putih mulus. Kecupan-kecupan ringan ia daratkan disana. Hingga pada satu titik yang dia kecup membuat Jiyeon mendesah cukup keras.

Your weak spot eum?” tanya Jaejoong seraya tersenyum seduktif. Kemudian ia kembali mencium titik tersebut, kali bukan hanya sekedar kecupan ringan melainkan ciuman. Jaejoong bahkan sedikit menggigit hingga menimbulkan bercak ungu dikemudian hari.

“Jaejoong-ah! Keluar kau! Sudah cukup waktumu untuk bersenang-senang!” Manager Jaejoong menerobos masuk dan mearik Jaejoong begitu saja. Beberapa pengawal pun ikut masuk.

Jiyeon bingung melihat keadaan di depannya.

“Kau tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menemuimu, pasti. Aku janji.” Kalimat terakhir Jaejoong sebelum pengawal-pengawal membawanya pergi.

“Aku kecewa padamu, Jiyeon-ssi. Kau dipecat.” Manager Jaejoong pergi begitu saja.

Kini hanya ada Jiyeon, menangis sendirian.

***

Jiyeon POV

Hari-hari kulalui dengan berat. Sudah hampir enam bulan aku hilang komunikasi dengan Jaejoong oppa semenjak perpisahan tiba-tiba waktu itu. Sedih, kecewa, semua menjadi satu. Hari ini, sepulang kuliah aku mampir ke coffee shop langgananku didekat universitas. Dengan Ice Americano, aku memilih untuk duduk di kursi pojok dekat jendela.

“Jaejoong-ssi, bisa kau nyanyikan sedikit lagu terbarumu?” suara dari pemandu acara yang sedang ditayangkan di televisi di coffee shop ini mengalihkan perhatianku. Disana, di televisi, aku melihat seseorang yang selama ini kurindukan, seseorang yang selalu hadir di benakku, seseorang yang selalu menghiasi mimpiku.

“Tentu saja. Lagu ini kubuat karna aku merindukan seseorang, sangat. Hei kau, datanglah padaku setelah kau mendengar lagu ini. Aku tidak peduli kau ada dimana, atau kau sudah mempunyai kekasih. Aku ingin kau datang padaku. Kapan pun itu, aku menunggumu.

Come back when you hear this song
Come back when you hear this song

I didn’t know when you were with me
I didn’t know even after you left
But after time passed, I finally realized

No matter who I met
I kept thinking about you
So I kept getting scared
Because it seemed like a mistake to let you go

What do I do? After all this time
I am regretting that I let you go
I’m not confident that I can change your mind after making you cry but
Give me one more chance.”

Kim Jaejoong bodoh. Neo jongmal baboya.

Tanpa menunggu lagu itu selesai, aku berlari sekencang yang aku bisa, menyetop taksi dan pergi ke bandara. Aku mengambil penerbangan tercepat menuju resort pribadi Jaejoong oppa.

“Kim Jaejoong pabbo!” Dia disana, berdiri di tepi pantai dengan tampannya. Ia menatapku, merindu. Aku berlari menghambur kedalam dekapannya. Tubuh kami terhuyung kebelakang karna kencangnya aku berlari. Aku jatuh dipangkuan Jaejoong oppa yang terlebih dahulu jatuh terduduk di pasir putih.

Aku menenggelamkan wajahku di lehernya, menghirup aroma maskulinnya yang selalu kurindukan.

Pabbo! Bagaimana kalau aku tidak mendengar lagumu eoh? Bagaimana kalau aku tidak menemuimu? Kau benar-benar bodoh.” Ucapku dengan terisak.

“Kalau begitu aku yang akan menemuimu.” Jaejoong oppa menatapku dengan lembut kemudian mencium keningku. Kupejamkan mataku, menikmati sentuhanya yang membuatku tenang dan aman. “Bogoshipeo Jiyeon-ah, nan jongmal bogoshipeo. Saranghae, nan jongmal saranghae.” Aku kembali menangis mendengar pernyataan cintanya. Namun kali ini air mata bahagia yang membasahi pipiku.

Jaejoong oppa mengecup bibirku.

Flashback off

“Kau sedang melamun?” suara Jaejoong oppa membangunkanku dari lamunan, kenangan indah saat kami bertemu hingga menjadi seperti sekarang.

“Aku hanya mengingat kisah cinta kita oppa.” Kataku sambari membelai rambut Jaejoong oppa.

“Kisah cinta kita yang singkat dan berakhir manis, benarkan chagi?” Jaejoong oppa tersenyum memandangku. “Mungkin kau bisa menuliskan kisah kita dalam bentuk novel, seperti aku menuliskan kisah kita kedalam lirik laguku.”

“Akan kucoba oppa. Saranghae.” Kataku tulus.

Nado saranghae.” Lalu kami pun kembali berciuman dan menghabiskan malam dengan indah, dibawah cahaya kelap-kelip bintang dan diiringi debukan ombak pantai di resort pribadi milik Jaejoong oppa.

End

Advertisements

11 thoughts on “Come Back When You Hear This Song

  1. rhea rose says:

    Duuuh snengnyo bsa bc ff bru dri jaeyeon couplee q ska bgt ma couple ini super duper sempurna dg klbhan fisik & bkat mrka tpi syang jrang bgt or mlah bsa dhtung jri yg couplein mrka.., brharap kdpanya byk ff untuk jaeyeon aamin.. Crta ini walo simple tpi manis & feelny jg dapet.. Keren2 dah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s