Pluviophile

Pluviophile

12208791_1009457592430352_6704245427794600456_n_%e5%89%af%e6%9c%ac_%e5%89%af%e6%9c%ac

Cast:

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

(Ini adalah bagian kedua dari Rain Series. Bagian pertama adalah Fairy Bi. Mohon maaf bila ada typo atau terlalu pendek dan tidak memuaskan bagi readers >< Happy reading ^^)

Pluviophile (n) “a lover of rain; someone who finds joy and peace of mind during rainy days”

Myungsoo PoV

Hari ini aku berkesempatan untuk menghabiskan sore dengan secangkir teh hangat di beranda kamarku. Beranda kamarku berhadapan langsung dengan rumah sebelah, hanya dibatasi oleh sepetak taman bunga yang malah menambah indah pemandangan.

Aku teringat peristiwa di Minggu pagi yang hujan saat aku pertama melihat tetangga cantik penghuni rumah sebelahku ini. Sejak kejadian itu, aku sudah beberapa kali kami berinteraksi. Fairy Bi, julukanku pada yeoja cantik itu, ternyata bernama Park Jiyeon. Dia adalah guru di taman kanak-kanak. Sesuai dengan penampilannya yang lembut dan ceria.

“Hai.” Sapaan lembut tiba-tiba mengagetkan lamunan soreku. Fairy Bi itu, ah anni, Jiyeon, sedang berdiri di depan beranda rumahnya. Senyum cantik selalu membingkai wajahnya.

“Hai.” Balasku sembari membalas senyumnya.

“Kenapa kau melamun?” Jiyeon bertanya sembari menyalakan kran air dan mulai menyirami tanamannya.

“Ah, anniyo. Aku tidak melamun.” Jawabku gugup. Aku mengusap tengkukku dengan geli. Terpergok oleh seseorang dalam lamunan itu bukanlah hal yang menyenangkan.

Jinjja? Tampangmu lucu sekali, Myungsoo-ah.” Jiyeon terkikik geli, masih sambil menyiram tanamannya.

“Jangan meledekku, Jiyeon-ah.” Ucapku malu.

“Sedang apa kau sore-sore di beranda?”

“Hanya menikmati secangkir teh di sore hari. Jarang-jarang aku bisa menikmati sore.” Jiyeon terkekeh geli mendengar jawabanku.

“Hanya secangkir teh? Kau tidak punya makanan untuk menemani tehmu?” Jiyeon berhenti menyiram tanamannya dan menatapku.

“Kau tau sendiri aku namja single dan tidak bisa memasak. Jadi aku tidak ada makanan untuk menemani tehku ini.” Jawabku asal.

“Aish, tidak ada hubungannya antara makanan dengan status single-mu.” Jiyeon bersungut kesal. Bibirnya ia poutkan, sangat menggemaskan. “Tunggu ya aku baru saja selesai memanggang biscuit keju. Sepertinya cukup untuk kita berdua.” Tanpa menunggu jawabanku, yeoja itu berlalu ke dalam rumahnya, meninggalkanku dalam senyum.

Tak lama, Jiyeon kembali dengan sepiring biscuit keju dan langsung duduk di sebelahku.

“Nah, cha! Biscuit keju buatan Park Jiyeon.” Katanya dengan senyum mengembang.

“Hmm baunya enak.” Ucapku, “Bentuknya pun bagus. Namun itu tidak menjamin rasanya kan?” tambahku seraya menggodanya. Pipi yeoja itu menggembung dan mata indahnya melirikku tajam.

“Hahaha Jiyeon-ah kau lucu sekali. Neomu kyeopta.” Aku terkekeh melihat ekspresi merajuknya. Tanganku tak bisa menahan untuk tidak mencubit pipi chubby-nya itu.

“Yak Kim Myungsoo.” Dia semakin merajuk.

“Aku hanya bercanda Jiy, haha. Jangan terlalu serius.”

Kami terdiam menikmati senja dengan secangkir teh dan biscuit keju buatan Jiyeon. Biscuit itu sangat enak. Entah karna perutku yang lapar atau karna yang membuat adalah yeoja fairy bi itu. Aku terkekeh dalam hati. Alasan macam apa itu, Kim Myungsoo. Aku sungguh seperti remaja belasan tahun yang sedang kasmaran.

“Jiy.” Aku berusaha memecah kehaningan senja.

Wae?” dia bertanya tanpa menatapku. Pandangannya terpaku pada langit sore dengan semburat merah jingga.

“Kenapa kau sangat menyukai hujan?” aku sangat penasaran dengan hobinya hujan-hujanan itu. Dan yang lebih aneh, dia tidak sakit setelah hujan-hujanan.

“Kenapa kau bertanya tentang itu?” dia mulai menatapku. Ditatap seperti itu membuatku sedikit gugup.

“Hanya ingin tau.” Jawabku seadanya, tanpa memalingkan pandanganku darinya.

“Orang menyebutku dengan pluviophile.”

Pluviophile? Apa itu? Semacam penyakitkah?” aku bingung mendengar istilah aneh itu.

“Itu semacam kecenderungan. Pluviophile adalah sebutan untuk pencinta hujan, seseorang yang merasa senang dan damai di hari-hari berhujan.” Jiyeon menjelaskan sembari tersenyum.

“Jadi kau adalah pencinta hujan?”

“Ya. Hujan membuatku tenang dan damai. Aku selalu merasakan perasaan seperti itu setiap hujan turun.”

Jiyeon kembali tersenyum. Senyumnya melebar tatkala hujan turun dengan tiba-tiba. Entah darimana datangnya. Sepertinya hujan turun karna sang fairy bi memanggilnya. Jiyeon bangkit berdiri dan menengadahkan sebelah tangannya, membiarkan air hujan jatuh membasahi telapak tangannya. Senyumnya kian mengembang. Wajahnya yang tadinya terlihat pucat kini berseri-seri. Pipinya bahkan besemu merah. Sungguh cantik.

Sebuah ide terlintas dibenakku. Tanpa Jiyeon sadari, aku melesat kedalam kamar dan mengambil DSLRku. Aku membidikkan kamera kesayanganku itu kearah Jiyeon. Mengambil beberapa gambar dirinya yang tengah menikmati dinginnya rintik hujan.

Setelah beberapa bidikan, aku mengamati hasilnya. Hasilnya sungguh luar biasa. Jiyeon benar-benar seperti peri hujan. Seakan mereka memang diciptakan bersama. Jiyeon adalah hujan, dan hujan adalah Jiyeon. Yeoja itu benar-benar cantik dan hujan menambah pancaran kecantikannya. Ini adalah pemandangan yang sangat indah. Hujan di kala senja dan peri hujan yang cantik jelita.

Advertisements

6 thoughts on “Pluviophile

  1. putri JH says:

    Aigoo myung kamu yang gemesin,, dari tadi ngagumin kecantikan jiyi mulu,,kmu juga tampan tampan bgt malah,, nungguin jiyi yang ke sem sem sma kmu ,, fighting!! Kurang panjang authornim!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s