Nemo, Mianhae, Saranghae

Nemo, Mianhae, Saranghae

wpid-tumblr_mj7p06wbwy1qdk6l3o1_1280_%e5%89%af%e6%9c%ac

Cast:

Park Jiyeon

Lee Donghae

Jiyeon POV

Aish kenapa panas sekali sih? Aigoo aku tidak bisa tidur kalau sepanas ini. Apa sebaiknya aku tidak memakai selimut saja ya? Tapi kalau tidak memakai selimut aku bisa masuk angin dengan AC seperti ini >< Sudahlah lebih baik aku keluar saja.

Angin malam terasa sejuk dikulitku. Beranda apartemenku memang bisa aku andalkan. Dari sini aku bisa melihat bintang kota bersinar terang di bawah sana. Romantis sekali. Duduk-duduk di beranda pada malam hari tidak begitu buruk.

Tringgg…

Ponselku berdering. Satu email? Siapa yang mengirim email malam-malam begini? Lagipula ini sudah pukul 11 lewat.

Eommona! Betapa terkejutnya aku saat melihat behwa yang mengirim email padaku adalah Donghae oppa, mantan namjachingu-ku. Kami berpisah dua tahun yang lalu. Ada apa Nemo itu mengirim email padaku?

“Hei.”

Mwo? Hanya ini? Namja itu jinja –“

“Helloooo.”

Balasku setengah hati. Siapa yang tidak kesal menerima email semalam ini berisi sapaan sesingkat itu. Walaupun, aku akui aku senang juga mendapat email darinya.

Beberapa menit kemudian barulah dia membalas. Padahal aku membalas tepat waktu.

”Kau belum tidur?”

“Belum. Wae?

Eobseo. Apa kabarmu?”

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Akupun begitu.”

Wae? Kau tidak merindukanku?” Aku mencoba mencairkan suasana. Kesal jika harus berbincang seperti musuh, hanya sapaan basa-basi yang tidak penting seperti itu.

“Hahaha kau ingin aku merindukanmu?”

“Kalau tidak ikhlas tidak usah ><”

“Aish kau ini masih suka merajuk seperti anak kecil. Hei, minta nomor ponselmu.”

Untuk apa dia meminta nomor ponselku? Tapi tetap kuberi dia nomor ponselku.

“Hei kalau tidak boleh tidak usah saja.”

Gwenchana, sudah aku kasih kan?”

Ne, gomawo.”

“Haha itu bukan masalah.”

Lama tidak ada balasan darinya. Eh dia tidak membalasnya lagi? Dasar ikan nemo masih suka seenaknya sendiri saja. Akhirnya aku putuskan untuk masuk kembali ke dalam. Sepertinya insomniaku kambuh lagi jadi kuputuskan untuk meminum segelas susu putih, siapa tahu bisa membantuku.

Suara merdu Taeyang ‘Bigbang’ dengan Eyes, Nose, Lips-nya tiba-tiba mengagetkanku. Siapa yang menelpon tengah malam begini? Mengganggu saja. Kulihat layar ponselku dan mendapati sebuah nomor tak dikenal. Siapa ya?

Yoboseyo?

“Jiyeon? Ini aku.” Suara namja disebrang sana.

“Eh, Donghae oppa?” Tanyaku sedikit ragu. Kami sudah tidak berhubungan cukup lama, wajar saja jika aku lupa.

“Kau masih ingat suaraku ternyata kkk. Kenapa belum tidur?”

Molla, aku tidak bisa tidur.” Jawabku sembari membawa segelas susu ke kamar.

“Insomnia lagi?”

“Sepertinya begitu.”

“Kau selalu saja insomnia.”

Dia masih ingat kebiasaan insomniaku ternyata.

“Cobalah minum susu putih.” Tambahnya kemudian.

“Aku sedang meminumnya. Tapi tidak ada reaksi apa-apa.”

“Kapan kau meminumnya?”

“Baru saja.” Ujarku sembari berbaring di tempat tidur.

“Kau ini, mana bisa bereaksi secepat itu.”

Aku hanya terkekeh mendengar suaranya.

“Kau mau aku nyanyikan suatu lagu?” Donghae oppa bertanya.

“Kau mau menyanyikan lagu untukku? Jinjja?” Ujarku tak percaya.

“Tentu. Listen!

I was walking again today and coincidentally saw you
You look like you’re doing well as always
That familiar perfume and still I miss you
The smile you gave to me, oh yeah

You get into a different person’s car, link arms with him
As you smile
I thought I was okay now, I thought I was fine
But

Still you, you, you, I haven’t forgotten you
Still you, you, you, I’m still the same, yeah
Am I hurting? (I am hurting)
I don’t know (I don’t know), oh no yeah

It’s still you, just you, still you”

 

Aku membeku, terkesiap saat Donghae oppa mulai menyanyi. Suaranya sangat merdu, aku tahu itu. Tapi yang lebih membuatku terkejut adalah lagu yang ia nyanyikan. Lagu ini… lagu ini… aku tak bisa berkata apa-apa. Akhirnya aku hanya bisa mendengarkan suara merdunya, mengantarku ke pulau mimpi.

.

.

.

Donghae POV

Aku mulai menyanyi. Lagu ini sebenarnya adalah ungkapan hatiku yang masih belum bisa melepaskannya apalagi melupakannya walaupun sudah hampir dua tahun kami berpisah. Walaupun Jiyeon sudah beberapa kali berganti pasangan, namun aku masih belum bisa mencari penggantinya.

 

I was walking again today and coincidentally saw you
You look like you’re doing well as always
That familiar perfume and still I miss you
The smile you gave to me, oh yeah

You get into a different person’s car, link arms with him
As you smile
I thought I was okay now, I thought I was fine
But

Still you, you, you, I haven’t forgotten you
Still you, you, you, I’m still the same, yeah
Am I hurting? (I am hurting)
I don’t know (I don’t know), oh no yeah

It’s still you, just you, still you

Yo I still look at your photos in my phone and press delete
I contemplate whether to call you or not
Running out of breath is all because of you
I calm myself but it barely lasts ten minutes
Erasing the scribbles you wrote in my heart
I guess I don’t want to yet, I don’t want to erase you

I become your shadow, following you every day
With my exhausted shoulders
If I take a step closer, you take two steps back
I have no choice but to look at you

Still you, you, you, I haven’t forgotten you (only you)
Still you, you, you, I’m still the same, yeah
Am I hurting? (I am hurting)
I don’t know (I don’t know), oh no yeah
(Cause baby I say)

It’s still you, just you, still you (Cause baby I say)
It’s still you, just you, still you

Am I hurting? I am hurting, I don’t know
Have I forgotten you? I guess not, I keep thinking of you baby

Still you, you, you, I haven’t forgotten you (only you)
Still you, you, you, I’m still the same, yeah
Am I hurting? (I am hurting)
I don’t know (I don’t know), oh no yeah
(Cause baby I say)

It’s still you (It’s still you),
Just you (Just you),
Still you (Still you)
(Cause baby I say)
It’s still you (It’s still you),
Just you (Just you),
Still you (Still you)
(It’s still you, just you, still you)

 

Aku terus menyanyi hingga baris terakhir. Aku yakin Jiyeon sudah tidur, tak ada suara apapun darinya, yang ada hanya hembusan napasnya yang halus dan teratur menandakan bahwa ia sudah terlelap.

Jaljayo Jiyeon-ah. Have a nice dream, saranghae.” Ucapku sebelum memutus sambungan. Malam ini aku tidur dengan perasaan sedikit lega setelah mengatakan apa yang selama ini aku pendam, meskipun mungkin Jiyeon tidak menyadarinya.

.

.

.

Jiyeon POV

“Emm…” aku sedikit merenggangkan tubuhku saat sinar matahari menembus masuk melalui celah gorden jendelaku. Aku bangun dengan pikiran yang bingung. Suara lembut dan lagu pengantar tidurku yang semalam masih terngiang-ngiang di telingaku. Apa semalam hanya mimpi? Tapi, kalau itu hanya mimpi itu terasa sangat nyata. Aku melihat ponselku yang tergeletak begitu saja di samping bantal. Di list panggilan terakhir tertera nama Donghae oppa yang menandakan kalau semalam bukan hanya mimpi.

“Jiyyyy kau sudah bangun??” Teriakan Eunjung eonni mengagetkanku. Eonni-ku yang cantik itu senang sekali berteriak. Mungkin dia bisa mencapai nada tinggi karna sering berteriak di dorm kkk.

Kulangkahkan kakiku keluar kamar, menemui Eunjung eonni dan eonnideul yang lain.

Wae eonni? Kenapa berteriak pagi-pagi begini?” Tanyaku saat melihat Eunjung eonni tengah melihat-lihat majalah dipangkuannya. Disana juga ada Qri eonni dan Boram eonni yang sedang nonton TV, Hyomin eonni yang sedang tiduran di sofa sambil membaca novel, dan Soyeon eonni yang sedang mendengarkan musik.

Eobseo. Tak baik perempuan bangun siang hari.” Jawabnya santai, tak mengalihkan pandangannya dari majalah.

Mwoya eonni.” Sahutku kesal, lalu kembali ke dalam kamar dan mandi.

Satu jam kemudian…..

Eodiga?” tanya Qri eonni saat melihatku keluar kamar dengan pakaian cukup rapi, rok hitam dan kaos putih.

“Aku mau bertemu dengan Jieun, eon. Hanya sebentar, aku sudah berjanji dengannya. Mumpung kami sama-sama tidak ada jadwal.” Jawabku, meminta izin dari leader-ku ini.

“Ah geurae, hati-hatilah.”

.

.

.

“Jiyeoniiiii, disini.” Kulihat Jieun tengah melambai-lambaikan tangannya dengan heboh saat melihatku memasuki café. Dia berada di ujung dekat dinding bersebelahan dengan jendela. Aku melangkah menghampiri Jieun, lalu duduk di kursi berhadap-hadapan dengannya.

Aigoo Jiyeonie aku merindukanmu.” Katanya sembari memelukku.

Nado, Jieunie.” Ujarku senang. Kami sudah lama tidak bertemu karna jadwal kami yang sama-sama sibuk.

“Kau mau pesan apa? Biar aku panggilkan pelayan.” Jieun melambai memanggil pelayan.

“Ada yang bisa saya bantu Agassi?” ujarnya ramah.

Cheese Cake satu, caramel macchiato satu. Bagaimana denganmu Jiy?”

“Emm Ice Americano satu. Itu saja dulu.” Pelayan berlalu sehingga aku dan Jieun bisa berbincang dengan santai.

“Bagaimana kabarmu? Kau terlihat senang sekali.” Jieun memang terlihat lebih ceria, matanya berbinar-binar seperti orang sedang jatuh cinta. “Ah kau sedang jatuh cinta? Benarkan? Yak beri tahu aku siapa namja itu.”

“Yak kau ini apa-apaan, Jiyeonie.” Pipi Jieun memerah seperti tomat.

“Hahaha kau tidak pandai membohongiku. Katakan, palli.”

“Eum sebenarnya ini…” Jieun tampak malu, “Song Mino.” Lanjutnya bergumam pelan.

“Song Mino? Winner? Woaa Jieunie. Sejak kapan kalian berkencan?” terkejut mendengar jawaban Jieun yang tidak disangka itu.

“Setelah duet kami di MAMA kemarin.” Jawabnya, senyum tak lepas dari wajah dan bibirnya.

Chukkae Jieunie.” Ucapku tulus.

Gomawo Jiy. Kau sendiri bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Sudah mempunyai namja baru?”

Annio, belum.” Aku kembali teringat dengan Donghae oppa.

“Ada apa?” Tepat saat Jieun bertanya pelayan datang membawa pesanan kami.

Gamsahamnida.” Ujarku dan Jieun. Aku meminum Ice Americano sebelum mejawab pertanyaan Jieun.

“Semalam Donghae oppa menelponku. Dan dia menyanyikan lagu duetnya dengan Eunhyuk oppa.”

“Donghae oppa?? Menyanyi?? Lagu duetnya yang mana?” Jieun nampak antusias.

Ajikdo neo.” Ujarku lemah.

“Woaaa itu pertanda bagus!” Jieun setengah berteriak. Aku melototinya, menyuruhnya untuk menjaga sikap.

“Bagus apanya? Itu malah membuatku bingung.”

“Itu tandanya Donghae oppa masih mengharapkanmu.”

Mwoya? Jangan bercanda Jieunie.”

Anni, aku serius, Jiy! Coba kau pikir, untuk apa Donghae oppa menelponmu malam-malam dan menyanyi lagu itu? Itu karna dia masih mencintaimu, Jiy.”

“Kalau benar begitu aku harus bagaimana?”

“Aish pabo. Kau tunggu saja, mungkin sebentar lagi Donghae oppa mengajakmu pergi dan mengajakmu untuk kembali bersama.”

Aku merenungi kata-kata Jieun. Ada benarnya juga. Namun aku masih ragu. Selama ini Donghae oppa digosipkan dekat dengan beberapa wanita mulai dari Yoona sunbae, Jessica sunbae, dan yang paling menghebohkan Dara sunbae. Aku tidak yakin Donghae oppa masih mencintaiku. Walaupun tak satu pun dari gosip itu yang ditanggapi olehnya.

Ponselku berdering. Di layarnya tertera nama Donghae oppa. Aku mematung melihatnya.

Wae? Kenapa tidak diangkat? Siapa yang menelponmu?” tanya Jieun setelah melihat reaksiku.

“Donghae oppa.” Gumamku kaku.

“Angkatlah, palli.

Dengan ragu aku mengangkat panggilan dari Donghae oppa.

Yoboseo?

“Jiyeon? Kau ada dimana? Aku baru saja dari dorm T-Ara tetapi Hyomin bilang kau tidak ada.” Ujar Donghae oppa panjang lebar.

“Eoh? A-aku sedang bersama Jieun, Oppa. Ada apa oppa mencariku?” Bisa kulihat Jieun menatapku penasaran.

“Ah bersama Jieun rupanya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Tapi kalau kau sedang bersama Jieun tidak apa-apa. Lain kali saja.”

Gwenchana oppa?”

Gwenchana. Kau ada waktu kapan?”

“Mungkin besok. Besok aku juga tidak ada jadwal, oppa.

“Baguslah, kalau begitu besok malam saja ne? Aku akan mejemputmu.”

“Ah ne oppa.” Panggilan itu berakhir dengan janji bertemu besok malam. Jieun menatapku menunggu penjelasan.

“Apa katanya? Kalian akan bertemu?”

Ne, Donghae oppa mengajakku bertemu besok malam. Dia juga bilang bahwa dia akan menjemputku.” Ujarku pasrah.

“Itu bagus sekali. Kan aku sudah bilang padamu, Donghae oppa masih mencintaimu.”

“Aish berhentilah Lee Jieun. Kau ini. Jangan membuatku melambung tinggi, aku takut jatuh.” Aku lalu menyuarakan apa yang tadi aku pikirkan tentang wanita-wanita yang dekat dengan Donghae oppa. “Kau tahu sendiri kalau Donghae oppa dikelilingi oleh yeoja-yeoja cantik seperti Yoona sunbae, Jessica sunbae, dan Dara sunbae. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka, apalagi setelah skandal itu.” Ujarku sedih kembali mengingat skandal yang menerpa T-Ara.

“Yak kau tidak boleh seperti itu. Kau itu cantik Jiy, cantik sekali. Kau juga baik, sangat baik. Biarkan orang-orang berkata apapun tentangmu. Mereka tidak tahu kau yang sesungguhnya.” Jieun menasihatiku.

“Tapi Jieun, kami putus karna tingkahku yang kekanak-kanakan. Aku yang manja sangat kesal saat dia terus pergi dan tak punya waktu untuk kami. Sikapnya yang dingin yang dulu membuatku tidak nyaman, justru sekarang membuatku merindukannya. Dia sangat dewasa, dan aku baru menyadarinya. Dia tidak pernah mengeluh dengan sikap burukku, aku yang labil, yang cemburuan. Aku sangat menyesal.”

“Katakan itu padanya, Jiy. Aku yakin dia akan mengerti dan memahamimu.”

Aku tersenyum menatap sahabat terbaikku itu. Dia selalu disisiku walaupun setelah skandal itu. Bahkan aku sempat takut kalau Jieun akan dibenci netizen karna berteman denganku. Tapi Jieun meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Gomawo Jieunie, kau sahabatku yang paling baik.” Ucapku tulus, lalu memeluknya.

“Aish kau ini. Kita kan bersahabat bukan sebulan dua bulan. Kita sudah bersahabat sejak bertahun-tahun. Kau tidak perlu sungkan kepadaku. Arraseo?

Arraseo Jieunie. Kau pun begitu ya? Jangan menyembunyikan apa pun dariku. Apalagi tentang kencanmu dengan rapper Winner Song Mino itu.” Kami tertawa bersama.

Di perjalan pulang menuju dorm, aku membuka file lama tentang hubunganku dengan Donghae oppa. Ada beberapa foto selca kami dulu. Air mataku menetes, merindukan momen seperti itu. Nemo-ah, mianhae, saranghae.

.

.

.

Sore harinya aku sudah dilanda panik. Baju apa yang harus aku pakai? Semua bajuku adalah baju santai dan kostum panggung. Eoteohkae?

Aigoo Jiyeonie, apa yang sedang kau lakukan?” Qri eonni masuk ke dalam kamarku dan melihat keadaannya yang berantakan.

Eonni, help me.” Aku memasang puppy eyes andalanku.

Wae?” Qri eonni menatapku setengah heran.

“Bantu aku memilih baju.”

“Baju untuk apa? Kau mau kencan eoh? Ommo. Jangan-jangan kau mau kencan dengan Donghae?” tebakan Qri eonni tidak meleset, tepat sasaran.

“Bagaimana eonni tahu?”

Hyomin yang memberi tahu kemarin, katanya Donghae kesini mencarimu tapi kau sedang ada janji dengan Jieun.”

“Tapi eonni, aku tidak tahu apa ini bisa dibilang kencan atau tidak.” Jawabku sedih.

“Jiyeoni, yang penting sekarang kau harus jujur pada dirimu sendiri. Kalau kau memang masih mencintainya, jujurlah katakan yang sebenarnya.” Saran Qri eonni.

Gomawo eonni.” Aku memeluk eonniku itu.

.

.

.

Donghae POV

Pukul tujuh kurang lima belas menit aku sudah berada di depan dorm T-Ara. Cukup lama menunggu hinggga Jiyeon keluar dengan balutan dress kasual yang membuatnya lebih cantik. Aku turun dari mobil dan berjalan membukakan pintu samping kemudi untuknya.

“Kau cantik sekali.” Ujarku menyapanya. Jiyeon tersenyum dengan pipi merona menambah kecantikanya.

Gomawo oppa.”

Mobil kulajukan dengan kecepatan standar. Jiyeon tampak diam, pandangannya mengarah keluar dari jendela. Dua tahun berpisah membuatnya terlihat lebih dewasa. Dulu dia selalu berceloteh sepanjang jalan. Penampilannya pun berubah. Jika dulu dia lebih suka menggunakan celana pendek dan kaos kebesaran, sekarang dia lebih seperti wanita pada umumnya.

Oppa, perhatikan jalanmu. Daritadi kau menatapku terus.” Ujarnya memecah lamunanku.

“Kau terlihat berbeda dengan dulu.” Aku kembali menatapnya dan tersenyum. Pipinya kembali merona membuatnya semakin cantik.

“Oppa bisa saja. Kita mau kemana oppa?

“Ke suatu tempat. Kau akan tahu nanti.” Jawabku misterius.

35 menit kemudian…..

Kami sampai di sebuah bukit. Dari sini pemandangan kota terlihat begitu indah. Ini adalah tempat favorit Jiyeon.

“Kenapa oppa membawaku kesini?” Jiyeon bertanya bingung.

“Disini adalah tempat kenangan kita, tempat favoritmu juga. Itulah kenapa aku membawamu kesini.” Jawabku jujur. Jiyeon nampak merenung, lalu ia berjalan menuju ke tepi. Aku mengamatinya lalu tersenyum.

Tak ada tanda-tanda Jiyeon akan berbalik jadi aku menghampirinya. Angin malam berhembus cukup dingin. Apa Jiyeon kedinginan? Aku menghampirinya perlahan, lalu memeluknya dari belakang. Dia langsung terkesiap.

O-oppa.”

“Hmm?” aku tak menghiraukannya. Kuletakan kepalaku bersandar di bahunya. Parfum khasnya menyeruak masuk kedalam indra penciumanku.

Oppa kenapa kau membawaku kemari?” tubuhnya kaku dalam dekapanku. Sepertinya ia masih bingung dengan sikapku. Dalam hati aku terkekeh geli.

Saranghae, Jiyeonie. Kembalilah kesisiku.” Aku berbisik di telinganya. Tubuh Jiyeon kembali menegang.

O-oppa, kau bercanda kan?” Dia menatapku tak percaya.

Aku tersenyum menatapnya. Kedua tanganku kuletakkan di bahunya yang mungil, mataku menatap mata indahnya.

“Aku serius Park Jiyeon. Dua tahun berpisah darimu membuatku menyadari bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melupanmu, bahkan bayanganmu sekalipun tak bisa aku lupakan. Maafkan sikapku yang selalu dingin dan cuek. Itu semua karna aku tidak bisa mengekspresikan rasa cintaku padamu. Aku terlalu takut jika aku salah bertindak dan malah membuatmu membenciku dan meninggalkanku. Namun aku salah, aku malah membuatmu meninggalkanku. Sekarang aku akan berubah. Kau mau menjadi kekasihku lagi, Jiyi? Kau mau memberiku kesempatan kedua?” jelasku panjang lebar. Kedua mata Jiyeon membulat.

Oppa a-aku… oppa, aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku terlalu kekanakan, egois, manja. Aku tidak bisa memahamimu. Semua salahku oppa, aku minta maaf.” Kristal bening turun dari mata cantiknya. Aku menatapnya, menunggunya melanjutkan ucapannya, tersenyum melihat Jiyeon yang sudah semakin dewasa dalam berpikir.

“Nemo, mianhae, saranghae.” Dia memelukku erat. Kedua tangannya melingkar di leherku. Aku terkejut saat dia memanggilku dengan panggilan sayangnya saat kami bersama dulu.

Nado saranghae, Jiyi-ah. Sangat, sangat mencintaimu.” Ucapku. Kurasakan pelukannya kembali mengerat. Aku membelai rambut panjangnya dengan sayang.

“Sekarang aku tidak akan menahannya lagi seperti dulu.” Kataku.

“Maksud oppa?” wajah lugunya membuatku tersenyum gemas.

“Aku tidak akan seperti dulu lagi. Sekarang, kapan pun aku ingin menciummu, aku akan menciummu. Tidak seperti dulu lagi.”

Mwoya oppa.” Dia tersipu malu. Tanganku mengusap pipinya lalu mendongakan wajahnya. Perlahan aku menempelkan bibirku pada bibir tipisnya. Jiyeon awalnya terkejut namun tidak melawan, dia memejamkan matanya. Melihat itu, aku semakin berani untuk melumat bibirnya. Jiyeon membalas lumatanku.

Jiyeon-ah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan mejagamu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku janji.

.

.

.

Jiyeon POV

Perutku seperti terisi oleh jutaan kupu-kupu saat bibirku disentuh oleh bibir Donghae oppa. Aku memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan lembutnya. Perlahan Donghae oppa melumat bibirku dan aku dengan berani membalas lumatannya.

Nemo, Donghae oppa, gomawo sudah kembali ke pelukanku sudah memberiku kesempatan untuk memiliki hatimu lagi. Maafkan sikap kekanak-kanakanku dulu. Nemo, mianhae, saranghae.

Advertisements

11 thoughts on “Nemo, Mianhae, Saranghae

  1. rhea rose says:

    Hehe ini slah 1 couple favoritq dongji couple cz styp mrka dpasangin d ff q bner2 dpet bsa mmbyangkan lok crta ini bner2 terjdi pda mrka..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s