Wicked Lovely (Part 1)

Wicked Lovely

87029f0fgw1enymx5uavtj20rs15owt5_%e5%89%af%e6%9c%ac

Seers or men of the second sight have very terrifying encounters with the fairies, they call Sleagh Maith or the Good People. –The Secret Commonwealth by Robert Kirk and Andrew Lang (1893)

 

Chapter 1

 

Featuring:

Park Jiyeon

Kris Wu

Krystal Jung

Kim Jaejoong

 

.

.

.

Jiyeon berjalan menjauh dari meja, menggumamkan selamat tinggal, dengan sadar mengalihkan tatapan dari para faeries. Mereka—para fairies—memindahkan bola billiard, menghampaskan diri pada keramaian di tempat itu—mereka melakukan apapun yang menyebabkan masalah—untungnya tidak ada satupun yang melintas di jalannya, ralat, belum.

“Hei Jiyeon, kenapa cepat-cepat pulang seperti itu? Ini bahkan masih jam 8.” Teriak seorang gadis berambut pendek berpenampilan tomboy dari balik wine bar.

“Aku ada urusan, Amber. Lain kali aku akan bermain dengamu.” Janji Jiyeon. Ia melambaikan tangannya pada Amber.

“Sejak kapan kau ada urusan seperti itu?” Amber terkekeh mendengar jawaban Jiyeon.

Jiyeon memutar bola matanya, “Sudahlah Amber. Aku pergi, bye!”

Jiyeon keluar dari dalam bar dengan tergesa. Sebisa mungkin ia berusaha terlihat biasa saat menghindari para faeries yang berada di dekatnya. Namun yang ada dalam benaknya adalah secepat mungkin sampai di rumah Jaejoong. Rumah Jaejoong adalah satu-satunya tempat aman yang paling dekat dengan bar. Sebenarnya itu bukan rumah seperti pada umumnya.

Jaejoong membeli gerbong-gerbong bekas kereta api yang terbuat dari baja dan mengubahnya menjadi sebuah hunian. Gerbong-gerbong kereta itu sangatlah bagus. Bagian luarnya dihiasi dengan beragam mural, mulai dari anime hingga abstract yang berpadu dengan harmoni. Membuat siapa saja yang lewat di daerah itu pasti menatap, walaupun sekejap, pada gerbong-gerbong kereta itu. Karena terbuat dari baja, tempat itu menjadi escape yang paling aman bagi Jiyeon. Setidaknya dari gangguan para faeries.

.

.

.

“Jaejoong, kau ada di dalam? Jaejoong?” Jiyeon berteriak saat ia tiba di gerbong depan—bagian depan rumah namja itu. Selang beberapa saat pintu berderit, menampilkan seorang namja dengan balutan jeans dan T-shirt hitam yang pas di badan. Cahaya lampu-lampu jalanan yang temaram membuat sosoknya memukau, walau terlihat sedikit mengintimidasi. Piercings yang ada di telinga kanannya memantulkan cahaya lampu, berkilauan. Tangannya menggenggam secangkir teh chamomile yang masih berasap.

“Hay, masuklah.” Namja itu bergeser dan mempersilahkan Jiyeon masuk terlebih dahulu. Gadis itu bergegas masuk, melepas mantel coklatnya, untuk kemudian menggantungnya di tempat yang disediakan. Ia mendudukkan dirinya senyaman mungkin di sofa ruang tamu Jaejoong yang hangat. Cahaya lampu berpendar samar—sedikit temaram. Namun sofa besar yang empuk dengan banyak bantal yang tersedia di sana sangatlah nyaman. Jiyeon mengangkat kedua kakinya, duduk bersila.

“Oh ya, buat dirimu senyaman mungkin, mademoiselle.” Jaejoong menyerahkan secangkir teh chamomile untuk Jiyeon. Ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi kayu beralaskan busa, berseberangan dengan sofa nyaman yang Jiyeon tempati. Jaejoong adalah blasteran, ibunya berdarah Perancis dan ayahnya berdarah Cina. Sejak lulus dan memperoleh bachelor degree-nya, ia memutuskan untuk pindah ke Korea Selatan dengan membuka bar bersama teman-teman geng-nya.

Merci, monsieur.” Jiyeon menyesap teh-nya dengan perasaan lega karena telah berhasil mencapai tempat yang aman. Ia melayangkan pandangan pada jendela di belakangnya yang sedikit berkabut tertutup salju.

Salju turun lebih cepat tahun ini… Ini baru pertengahan November… Batin Jiyeon.

Di luar, ia melihat beberapa faeries berkeliaran. Beberapa berjalan dalam kelompok kecil berjumlah dua hingga empat orang, dan beberapa lagi berjalan seorang diri.

Para faeries itu semakin banyak berdatangan. Jika Granny tahu…dia akan semakin cemas. Lebih parahnya, Granny bahkan tidak akan mengijinkanku keluar apartemen.

“Jiyeon? Kau masih bersamaku?” Jaejoong melambai-lambaikan tangannya di depan muka Jiyeon.

Tanpa sadar Jiyeon sudah melamun cukup lama dan tidak menyadari Jaejoong yang sedari tadi mengajaknya bicara.

“Oh, ya, aku masih disini.” Jiyeon kembali memandang ke arah Jaejoong. Ia bahkan tidak menyadari Jaejoong yang berpindah posisi, duduk di atas meja, tepat berhadapan dengan Jiyeon.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” Jaejoong memang selalu begitu. Terus terang. To the point.

“Aku… entahlah. Aku tidak tahu apakah aku bisa menceritakan masalah ini pada orang lain,” Melihat raut wajah Jaejoong yang berubah, Jiyeon buru-buru menambahkan, “Maksudku… aku belum siap menceritakannya.”

Jaejoong mencondongkan badannya, meraih cangkir teh yang berada dalam genggaman Jiyeon untuk kemudian ia letakkan di atas meja. “Kau tahu aku selalu siap mendengarkan ceritamu kapan pun kau siap.”

Gomawo. Aku tahu aku datang pada orang yang tepat,” Jiyeon tersenyum menanggapi perkataan Jaejoong. “Kau tahu, satu hal yang pasti, rumahmu adalah tempat yang paling aman untuk saat ini.”

“Kenapa begitu?”

“Rumahmu terbuat dari baja. Dan mereka, makhluk-makhluk itu—sepanjang pengetahuanku, takut dengan benda-benda yang terbuat dari baja. Itulah kenapa Granny memasang baja dibalik pintu apartemen.”

“Kau tahu kau bisa saja tinggal di sini sesuka yang kau mau. Mau menginap malam ini?” Jaejoong mengedipkan sebelah matanya sembari mengangkat cangkir teh-nya sebelum kemudian menyesap isinya habis.

Jiyeon memutar bola matanya. “Dan kemudian keesokan harinya Granny akan membunuhku.” Ia mengambil kembali cangkir teh-nya dan menghabiskan sisa teh yang ada. Ia mengambil cangkir milik Jaejoong dan bangkit membawanya ke bak cuci. Jaejoong menanggapinya dengan tawa khasnya yang renyah.

“Letakan saja di sana, biar aku yang mencucinya.” Pandangannya mengikuti arah Jiyeon berjalan.

Seakan tidak mendengar ucapan Jaejoong, Jiyeon mencuci kedua cangkir itu. Setelah selesai ia mengeringkan kedua tangannya dengan kain yang tergantung di pantry.

“Kau memang keras kepala, Nona. Tunggulah disitu. Ada sesuatu yang harus ku ambil. Jangan pulang dulu, okay? Aku yang akan mengantarmu.” Jaejoong bangkit setelah mendapat anggukan dari Jiyeon. Jiyeon sendiri lebih memilih untuk duduk di atas meja pantry yang tinggi. Tidaklah lengkap baginya jika belum duduk di meja pantry jika berkunjung ke rumah Jaejoong.

Beberapa saat kemudian Jaejoong muncul dari arah kamarnya di gerbong belakang. Kedua tangannya membawa sebuah kotak yang lumayan besar berwarna merah darah. Ia meletakkan kotak tersebut di atas meja pantry, tepat di sebelah  Jiyeon duduk.

“Apa itu?”

“Kau bilang kau memerlukan sesuatu yang terbuat dari baja supaya kau merasa lebih aman?” Jaejoong membuka kotak tersebut. Jiyeon mengangkat sebelah alisnya melihat isi kotak. “Pakai ini, dan ini juga.” Jaejoong menyerahkan sebuah kalung salib terbuat dari baja dan dua buah gelang rantai baja.

“Kau serius? Aku terlihat seperti orang bodoh dengan gelang sebesar itu.” Tolak Jiyeon.

Jaejoong mengusap wajahnya. Frustasi. “Baiklah. Pakailah saja kalungnya.” Ia kemudian membuka kaitan kalungnya dan berdiri tepat di hadapan Jiyeon.

Tinggi meja pantry yang tepat setinggi pinggang Jaejoong membuat tinggi Jiyeon dan Jaejoong seimbang. Jaejoong membuka kedua lutut Jiyeon untuk mendekatkan posisinya. Rambut panjang lurus kecoklatan milik Jiyeon ia letakkan di bahu kiri gadis itu. Sedangkan Jiyeon hanya duduk mematung dengan posisi mereka yang begitu dekat. Mereka belum pernah berada pada posisi sedekat ini. Jaejoong selalu sopan dan menjaga jarak saat dengannya. Hembusan napas mereka beradu.

Jaejoong kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Jiyeon, memasangkan kalung tersebut. Setelah memastikan bahwa kaitnya terpasang dengan sempurna, Jaejoong memberi kecupan ringan pada telinga kanan Jiyeon. Tingkah Jaejoong membuat Jiyeon merasa seperti disengat ribuan volt. “Kau tahu, kau selalu bisa datang padaku dan mengandalkanku.” Namja itu meletakkan kedua tangannya di samping paha Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh.

.

.

.

Pagi ini terasa lebih dingin dari pagi-pagi sebelumnya. Jiyeon bangun dari tempat tidurnya yang nyaman dan berjalan lunglai untuk mandi. Dari lubuk hatinya, sebenarnya dia tidak ingin berangkat ke sekolah. Ada dua alasan. Pertama, karena udara pagi itu freezing cold dan yang kedua, alasan yang sangat ia rahasiakan dari Granny. Jiyeon merasa resah dengan adanya dua fairies yang terus mengikutinya sejak dua minggu belakangan. Satu fairy laki-laki dengan rambut kekuningan seperti perunggu dan satu fairy perempuan yang sangat aneh.

Kedua fairies itu sangat bertolak belakang. Si fairy laki-laki itu terasa sehangat matahari musim semi, dengan rambut dan seluruh tubuh berpendar seperti mentari pagi yang hangat. Sedangkan fairy perempuan itu bagaikan mayat hidup dengan balutan baju dingin berbulu berwarna serba putih. Bahkan rambutnya berwarna putih keperakkan, hampir menyerupai salju dan bibirnya pun begitu.

Jiyeon berjalan dari kamarnya menuju ruang makan, dimana Granny sudah duduk menggunya. Granny masih terlihat sehat, dan memang sehat. Badannya tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Rambutnya sudah memutih termakan usia. Namun mata yang berpendar ramah dan senyum senantiasa mengukir wajahnya.

“Sudah siap ke sekolahh, Nak?” Wanita yang selalu merawat Jiyeon sejak lahir itu tersenyum. Tangannya sibuk mengoles selai kacang pada roti tawarnya. Secangkir kopi dan susu hangat sudah tersedia di meja.

“Sudah, Granny.” Jiyeon mencium kedua pipi Granny-nya. Ia duduk di kursinya dan menuang sereal favoritnya. Mereka makan dalam diam. Seperti itulah rutinitas pagi mereka. Hanya diisi pertanyaan-pertanyaan ringan seperti ‘bagaimana sekolahmu?’ ‘apa kau ada masalah selama berada di kelas?’ ‘apakah ada mata pelajaran yang kau kesulitan?’ hingga ‘apa teman-temanmu memperlakukanmu dengan baik?’.

“Aku berangkat, Granny.” Jiyeon berdiri dari kursinya, mencuci mangkuk sereal dan gelas susunya sebelum mencium pipi Granny-nya.

“Hati-hatilah. Kau masih ingat tiga aturan dasar kita kan?”

“Ya, Granny, aku selalu mengingatnya.” Sebenarnya Jiyeon bosan dengan pertanyaan Granny-nya tentang tiga aturan dasar mereka.

“Sebutkan, Nak.”

“Peraturan nomer tiga, jangan menatap fairy yang tidak kelihatan. Peraturan nomer dua, jangan menjawab fairy yang tidak terlihat. Peraturan pertama, jangan pernah menarik perhatian fairy.” Jiyeon menyebutkannya dengan malas-malasan dan memutar bola matanya di akhir kalimatnya.

“Bagus. Kau tahu, Granny hanya khawatir jika fairies itu menemukanmu dan mengambilmu dari Granny. Jangan lupa kancingkan mantelmu.”

Jiyeon selalu mendengar kalimat itu dari Granny. Cerita tentang fairies yang menculik manusia-manusia yang dapat melihat fairies. Itulah kenapa ia dan Granny mempunyai tiga aturan dasar itu. Mereka adalah sedikit dari manusia yang dapat melihat fairies.

Sesaat setelah keluar dari gedung apartemen berlantai duapuluh dua itu, Jiyeon langsung menyadari bahwa kedua fairies yang selalu mengikutinya itu berada tepat di gedung pertokoan di seberang gedung apartemennya. Gadis itu terkejut selama sesaat, sebelum kembali memasang wajah datarnya. Ia tidak boleh membuat kedua fairies itu menyadari bahwa ia menyadari keberadaan mereka.

.

.

.

“Hei Jiyeon! Duduk di sini!” Seorang gadis berambut hitam panjang melambaikan tangannya ketika Jiyeon baru saja melangkahkan kaki di kelas Kalkulusnya yang membosankan. Jiyeon menghampiri gadis tadi di bagian belakang kelas.

“Pilihan tempat duduk yang bagus, Jieun!” Jiyeon meletakkan tasnya di atas meja dan duduk. Kepalanya ia letakkan di atas meja, dengan tasnya sebagai bantalan.

“Kau masih mengantuk?” Jieun mendekatkan wajahnya ke meja, menjajarkannya dengan Jiyeon.

“Mengantuk dan sedikit tidak enak badan. Kenapa semakin hari rasanya semakin dingin?”

“Aku kira itu hanya perasaanku saja. Kau pun merasakannya juga? Entahlah aku juga tidak tahu kenapa setiap hari semakin dingin. Rasanya ingin segera punya pacar.” Jieun menopang dagunya dengan tangan kanannya.

Jiyeon menegakkan duduknya. Terkejut dengan ucapan Jieun.

“Lee Jieun. Apa hubungan antara udara dingin dan mempunyai pacar?”

“Kau ini. Jika udara dingin dan kau punya pacar, kau bisa memeluk pacarmu atau cuddling untuk menghangatkan badan. Tapi jika kau single, udara sedingin ini hanya membuatmu semakin dingin. Dinginnya cuaca dan dinginnya hati.”Jieun menatap Jiyeon dengan pandangan bersemangat—semangat untuk mencari pacar.

Jiyeon hanya menggelang-gelengkan kepalanya. Bingung dengan pemikiran sahabatnya ini.

.

.

.

“Sampai kapan kita hanya mengintai gadis mortal itu, Kris?” Krystal, gadis fairy berambut dan pakaian seputih salju itu bertanya pada fairy di sebelahnya. Bibir Krystal berwarna kebiruan pucat. Kabut dingin mengepul dari bibirnya kala ia berbicara. Namun itu tidak mengurangi kecantikannya. Meskipun kecantikan itu berpendar aneh dan dingin. “Sudah dua minggu kita mengikutinya, jika boleh kutambahkan.”

Kris, namja fairy berambut perunggu sepanjang ujung telinganya dengan warna sehangat matahari pagi yang berpendar, hanya tersenyum menanggapi. Ia berdiri dengan tangan di saku jeans-nya. Meski cuaca dingin, ia tidak repot-repot untuk menggunakan mantel musim dingin. Dilihat dari berbagai sudut, fairy itu sangatlah mempesona.

Dalam sekali lihat, kedua fairies itu bukanlah fairy sembarangan.

.

.

.

.

.

to be continued…

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Wicked Lovely (Part 1)

    • Aletheia says:

      Fairy itu semacam makhluk lain dari dunia yang tidak dapat dilihat manusia, kecuali manusia-manusia yang mempunyai kelebihan 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s