Wicked Lovely (Part 2)

Wicked Lovely

 87029f0fgw1enymx5uavtj20rs15owt5_%e5%89%af%e6%9c%ac

The Sleagh Maith or the Good People are terrified by nothing earthly so much as by cold iron. –The Secret Commonwealth by Robert Kirk and Andrew Lang (1893).

 

Chapter 2

 

Featuring:

Park Jiyeon

Kris Wu

Krystal Jung

Kim Jaejoong

 

.

.

.

Seorang gadis fairy bermata rusa berjalan menyebrangi ruangan club yang rame. Dia terlihat terlalu vulgar dan megagumkan disaat bersamaan. Matanya jauh lebih lebar dari ukuran normal, membuat kesan terkejut pada wajahnya. Jika dilihat secara kesuluruhan, dengan tubuhnya yang kurus kecil, membuatnya terlihat berharga dan innocent.

Tapi tidak. Tidak ada satu fairies pun yang innocent.

Jiyeon duduk dalam club dengan tidak tenang. Badannya terduduk tegang. Sekilas ia melihat fairy bermata rusa itu menjulurkan lidah birunya pada fairy berwujud menyerupai manusia pohon. Fairy pohon itu terkejut dan melangkah mundur. Namun setetes darah mengalir dari pipinya. Si fairy bermata rusa itu terkekeh bahagia.

Jiyeon menggigit bibirnya. Perlahan bangkit dan meninggalkan club itu. Dia mencoba untuk tetap melangkah dan tenang, sesuatu yang sama sekali tidak ia rasakan. Jiyeon berusaha untuk tetap diam dan menutup mulutnya. Ia tidak ingin sepatah kata yang tidak diinginkan untuk terucap. Dalam lubuk hatinya, ia ingin berteriak pada fairies itu untuk pergi, sehingga ia tidak perlu pergi. Namun itu adalah hal yang tidak akan bisa ia lakukan. Ever. Jika ia melakukannya, fairies itu akan tahu rahasianya: bahwa Jiyeon dapat melihat fairies.

Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menyimpan rahasia. Granny mengajarinya sejak ia bahkan belum bisa menuliskan namanya: keep your head down and your mouth closed. Jika ia terlihat sedikit saja melanggar peraturan itu, Granny akan mengurungnya di apartemen, menghabiskan waktu dengan home-schooling, no parties, no clubs, no freedom, no Jaejoong. Ia sudah pernah merasakan semua itu saat ia berada di junior high school.

Jiyeon berjalan di jalanan kota yang saat itu sepi. Sepi dari manusia dan sepi dari fairies. Sepi bukan berarti tidak ada sama sekali. Beberapa orang terlihat sibuk dengan bisnis mereka, shopping, bercanda, dan makan bersama. Jiyeon menghembuskan napasnya, iri dengan mereka yang tidak pernah melihat fairies. Mereka tidak pernah tau apa yang ada di sekitar mereka. Mereka tidak pernah melihat makhluk dengan surai singa, sayap di punggungnya, bergelut dengan sesamanya dan jatuh di atas fairy perempuan bergigi runcing dengan jari menyerupai cakar.

Aku harap aku tidak pernah bisa melihat fairies. Batin Jiyeon.

Namun harapannya hanyalah sekadar harapan yang tidak pernah akan bisa terkabul.

Jiyeon memasukkan kedua tangannya pada saku mantel. Kedinginan. Dia sudah hamper sampai di perpustakaan kota, saat ia melihat mereka. Dua fairies yang mengikutinya setiap hari selama dua minggu terakhir. Kali ini gadi fairy salju itu mengenakan mantel coklat dengan bulu halus disekitar lehernya, begitu pula dengan rok coklat yang ia kenakan. Disampingnya ada serigala abu-abu besar. Ketika fairy laki-laki yang berpendar itu menyentuhnya, seberkas luka bakar muncul di kulit si gadis salju. Gadis itu mendesis marah, menyebabkan kepulan kabut di sekitarnya, kemudian menampar namja fairy tadi. Tapi namja itu hanya terkekeh dan tersenyum.

Namja itu terlihat sangat mempesona saat tersenyum. Rambut perunggunya berkilau tajam, seakan bisa melukai siapa pun yang menyentuhnya. Walaupun laki-laki itu adalah mortal—manusia sepertiku, ia ia bukanlah tipeku. Terlalu tampan dan berkilau. Ucap Jiyeon dalam batin.

Kapanpun namja berkilau itu ada di dekatnya, Jiyeon bisa mencium bau bunga-bunga liar, batang pohon willow, seakan ia sedang duduk di bawah pohon di musim semi yang menyenangkan. Perasaan itu  mengganggunya. Ia seakan tidak bisa untuk tidak menikmati berada dekat dengan laki-laki itu. Perasaan nyaman dan keinginan untuk tetap berada dekat dengannya. Dia, laki-laki itu membuat Jiyeon ketakutan.

Jiyeon berjalan dengan cepat. Tidak berlari. Jangan pernah berlari atau fairies akan mengejarmu.

Jiyeon memasuki gedung perpustakaan. Setiap malam ia kemari, bersembunyi sampai hanya ada beberapa fairies yang berkeliaran. Namun mala mini berbeda. Ia melihat fairy laki-laki itu berjalan memasuki perpustakaan, mengikutinya, memakai glamour—kemampuan fairy untuk bisa menampakan dirinya pada manusia dengan penampilan seperti manusia pada umumnya. Ini adalah hal yang baru.

Kebanyakan fairies hanya akan melwati Jiyeon, karena dia bukanlah suatu hal yang penting. Namun kenyataan bahwa laki-laki itu memakai glamour-nya, memilih untuk menampakkan dirinya, adalah suatu pertanda buruk. Jiyeon dapat merasakan bahwa fairy itu memiliki suatu tujuan, dan entah kenapa tujuan itu berkaitan dengan dirinya.

Laki-laki itu melangkah perlahan, menghampiri Lay, penjaga perpustakaan, seraya menanyakan sesuatu. Lay melihat sekilas ke arah Jiyeon, menyebutkan namanya pada si fairy.

Oh tidak. Aku dalam masalah.

Jiyeon bersembunyi dengan mengangkat asal sebuah buku, menutupi wajahnya.

“Jiyeon, benar?” Fairy itu berdiri disampingnya, menatap kea rah buku yang sedang ia baca. Lengan mereka bersentuhan, jauh terlalu dekat. Fairy itu tersenyum, “Apakah buku itu bagus?”

Jiyeon melangkah mundur, perlahan menatap ke arah fairy itu. Jika fairy itu mengenakan glamour-nya dengan sengaja, menjadi manusia yang sekiranya dapat memikat Jiyeon, dia telah gagal. Jeans dan mantel hitamnya terlihat terlalu elegan dan high class. Rambut perunggu berkilaunya ia samarkan menjadi blonde, meskipun Jiyeon masih dapat melihat warna aslinya yang perpendar. Meskipun sedang mengenakan glamour-nya, fairy ini masih terlalu tampan sebagai manusia biasa.

“Tidak menarik.” Jiyeon menjawab pertanyaan fairy itu. Ia kemudian mengembalikan buku itu ke tempatnya tadi. Ia berusaha menutupi rasa takutnya, namun gagal. Ia melangkah, memutari area perpustakaan. Fairy tadi masih mengikutinya, terlalu dekat.

Si gadis salju menunggu di luar, duduk di punggung serigala besarnya. Mata hitamnya sehitam batu permata, berkilau aneh.

Jangan menatap pada fairy yang tidak terlihat, peraturan ke tiga. Batin Jiyeon mengingatkan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke penjuru perpustakaan.

“Aku akan bertemu beberapa teman untuk minum kopi. Kau mau ikut?” Fairy laki-laki itu menatap Jiyeon, lebih mendekatkan badannya.

“Tidak.” Jiyeon melangkah ke samping, membuat jarak dari fairy itu.

Fairy itu tidak menyerah. Ia melangkah mendekat lagi. “Besok malam?”

Jiyeon menggeleng, “Tidak.”

“Dia sudah kebal terhadap pesonamu, Kris?” Gadis salju berteriak dari luar, “Gadi pintar.” Suaranya senyaring lonceng gereja.

Jiyeon tidak menjawab. Gadis salju itu tidak mengenakan glamour. Ia tidak menampakkan dirinya. Jangan menjawab fairy yang tidak terlihat, peratura ke dua.

Fairy laki-laki itu juga tidak menjawab. Ia bahkan tidak memandang kea rah si gadis salju. “Bisakah aku menghubungimu? E-mail? i-Message? What’s App? Line? KakaoTalk?”

“Tidak.” Bibir dan kerongkongannya kering karena takut, “Aku sama sekali tidak tertarik.”

Ironinya, ia tertarik. Semakin dekat fairy itu padanya, semakin Jiyeon ingin mengatakan ya, ya pada apapun yang laki-laki itu katakan. Namun dia tidak akan, dan tidak bisa mengatakannya.

Laki-laki itu menarik secarik kertas dari sakunya, “Ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran…

“Tidak, aku tidak akan berubah pikiran.” Namun Jiyeon mengambil kartu itu. Ia menghindari supaya jarinya tidak bersentuhan dengan jari si namja. Just get it and get through it, batin Jiyeon.

Lay menatapnya, gadis salju itu pun menatapnya. Seolah ia adalah tontonan yang menarik.

Fairy itu mencondongkan tubuhnya pada Jiyeon, dekat dan berbisik, “Aku ingin mengenalmu…” Ia bernapas di dekat telinga Jiyeon, menghirup aromanya, “Benar-benar ingin.”

Peraturan pertama, jangan pernah menarik perhatian fairies. Jiyeon hamper tersandung saat ia memutar tubuhnya dan berbalik keluar. Menghindari fairy itu walaupun ia masih bisa merasakan si fairy memandang punggungnya dengan lekat.

“Larilah selagi kau bisa.” Gadis salju berbisik pada Jiyeon saat ia mencapai pintu.

.

.

.

Kris melihat kepergian Jiyeon. Gadis itu tidak berlari, tapi Kris dapat merasakan desakan untuk lari dalam diri Jiyeon. Manusia biasanya tidak lari darinya, terutama gadis-gadis. Hanya ada satu yang pernah lari darinya, itupun bertahun-tahun lamanya tidak terjadi. Tapi gadis yang satu ini, Jiyeon, ia ketakutan. Kulitnya yang sudah pucat bertambah pucat. Membuatnya terlihat lebih berkilau dengan rambut kecoklatan yang membingkai wajahnya. Jiyeon terlihat lebih berharga. Kris membayangkan bahwa ia dapat menarik Jiyeon kedalam mantelnya, meletakkan kepala gadis itu di bawah dagunya. Sempurna. Tapi gadis itu memerlukan panduan dalam berbusana. Gayanya yang biasa dan sangat kasual perlu dirubah. Paling tidak, ia mempunyai rambut panjang. Tipe ideal Kris.

Jiyeon akan menjadi tantangan dalam permainan ini. Kebanyakan gadis yang dipilih Kris adalah tipikal pemberani, terlihat kejam dan mempunyai passion. Kris mengira bahwa itu adalah pertanda bahwa gadis yang ia pilih akan bisa menjadi Ratu Musim Panasnya.

“Sepertinya gadis itu tidak menyukaimu,” Krystal menyela.

“Lalu?”

Krystal menyunginggkan bibirnya. Jika dilihat lagi, Kris dapat melihat perbedaan darinya. Rambut Krystal yang semula blonde berubah menjadi seputih salju. Tapi ia masih terlihat cantik, sama seperti sebelum ia menjadi Gadis Musim Dingin.

Cantik. Tapi bukan milikku. Jiyeon akan menjadi milikku. Ratu Musim Panasku. Batin Kris bertekad.

“Kris,” Krystal berkata dengan tajam, “Dia tidak menyukaimu.”

“Dia akan menyukaiku.” Kris melepaskan glamour-nya. Kemudian ia mengatakan kata-kata yang mengunci merubah takdir banyak gadis manusia, “Aku telah memimpikannya. Ia lah orangnya.”

Dan dengan kata-kata itu, takdir manusia Jiyeon perlahan memudar. Kecuali jika ia menjadi Gadis Musim Dingin, dia adalah milikku—for better or worse. Kris telah bertekad.

.

.

.

Jiyeon mendatangi rumah Jaejoong. lagi. Ia sudah masuk ke dalam, melangkah di antara buku-buku di lantai: Chaucer and Nietzche di samping The Prose Edda; Kama Sutra; A World History of Architecture, dan novel karya Clare Dunkle. Jaejoong membaca semua buku.

Jaejoong datang dengan sepasang cangkir dengan bunga berwarna biru, dua per tiganya penuh dengan teh. “High Mountain oolong. Baru datang pagi ini.”

Jiyeon mengambil salah satu cangkir darinya—mengamati ornamen dari cangkir tersebut—dan kemudian menyesap perlahan isinya. “Enak.”

Jaejoong duduk berseberangan dengan Jiyeon—Jiyeon besila di sofa dan Jeajoong di kursi kayu berbusa empuk. Ia menyilangkan kaki kanan diatas kaki kirinya, menyesap teh-nya in a manly manner. Terlihat sangat mempesona. “Apa kau mampir ke bar dalam perjalanan kemari?”

“Tidak. Hanya lewat saja. Kyuhyun menyetopku dan mengatakan bahwa speaker-mu sudah siap.”

“Baguslah kau tidak mampir. Mereka pesta sampai mabuk malam ini. Kyuhyun tidak mengatakannya padamu?”

“Tidak. Tapi ia tahu bahwa aku tidak akan mampir.” Jiyeon menyesap tehnya.

Beberapa saat kemudian, beberapa teman Jaejoong datang. Mereka selalu begitu, hampir setiap malam datang. Kadang untuk sekadar minum bir atau main kartu atau lainnya. Beberapa jam kemudian Jiyeon menghabiskan waktunya dengan bergelung di sofa, sementara Jaejoong menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Untuk sementara waktu, Jiyeon dapat berpura-pura bahwa semuanya normal, tidak kurang tidak lebih. Jaejoong memberinya ruang pribadi dalam ilusi bahwa semua baik-baik saja.

Itu bukanlah alas an kenapa ia mulai mengunjungi rumah Jaejoong sejak dua tahun yang lalu. Semua murni karena rumah Jaejoong terbuat dari baja. Tapi itu hanya salah satu alasan kenapa Jiyeon mulai mempunyai bayangan liar mengenai Jaejoong. Mengenai ia yang mulai memikirkan untuk menyerah dan meladeni permainan flirting Jaejoong. Tapi Jaejoong tidak berkencan. Dia mempunyai reputasi dengan one night stand yang banyak. Dan lagi, Jiyeon tidak ingin persahabatannya menjadi rumit. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya.

“Kau baik-baik saja?”

Jiyeon melamun. Lagi. “Ya. Aku hanya lelah. Kurasa.”

“Kau ingin membicarakannya?”

“Tentang apa?” Jiyeon menyesap tehnya. Sedikit bayangan mengenai berbagi cerita dengan Jaejoong melintas dibenaknya.

Bagaimana rasanya jika berbagi cerita dengan orang lain? Hanya untuk bercerita?

Granny tidak pernah berbicara tentang fairies jika ia dapat menghindarinya. Dia terlihat lelah. Terlalu lelah untuk bertanya kemana Jiyeon pergi atau kemana ia saat hari sudah gelap.

Jika aku cerita padanya, apakah dia akan mempercayaiku?

Please. Ceritalah padaku apa yang terjadi.”

“Apa maksudmu? Tidak ada…

Jaejoong menyela. “Jiyeon, kau terlihat khawatir akhir-akhir ini. Kau lebih sering kemari. Kecuali jika ini menyangkut tentang kita. Is it?” Jaejoong menatap Jiyeon dengan pandangan yang susah dibaca.

Jiyeon menghindari tatapan mata Jaejoong yang tajam. “Kita baik-baik saja.” Tangannya bergetar sehingga cangkir tehnya tumpah membasahi lantai. Dia bangkit menuju dapur, mengambil kain untuk melap lantai yang basah.

“Lalu? Apa kau dalam suatu masalah?”

Jiyeon kembali untuk melap lantai itu. Kemudian bangkit lagi menuju dapur. Saat ia membalikkan badan, Jaejoong sudah berdiri di belakangnya, membuat gadis itu terkejut dan memundurkan badannya hingga bersandar di meja pantry.

“Jiyeon?”

Jiyeon merasa bahwa Jaejoong dapat dipercaya. “Ya.” Jiyeon meneguk salivanya, berusaha setenang mungkin. “Faeries. Para fairy itu membuntutiku.”

Faeries?”

“Faeries.” Jiyeon tidak pernah menceritakan ini pada siapapun. Granny selalu melarangnya untuk bercerita kepada siapapun. Kita tidak tahu siapa saja yang mendengarkan. Tidak pernah tahu kapan mereka bersembunyi. Itu yang selalu ditanamkan Granny padanya. “Dua dari mereka  mengikutiku setiap hari semenjak dua minggu yang lalu.”

“Apa kau membuat masalah dengan mereka?”

“Tidak.” Jiyeon mengalihkan pandangannya dari Jaejoong.

“Apa mereka seperti makhluk kecil dengan sayap di punggung?”

“Tidak,” Jiyeon menghirup napas dalam, “Mereka sama seperti kita. Tapi menyeramkan.”

“Baik. Katakan padaku seperti apa mereka.”

“Tidak. Sudahlah. Lupakan saja.” Jiyeon berjalan kesamping, menghindar.

Jaejoong menangkap tangannya, menariknya kembali di depannya. Ia kemudian mengangkat Jiyeon untuk duduk di meja pantry.

“Tidak, Jiyeon. Tolong jangan begitu. Ceritakanlah semua padaku. Aku akan percaya padamu, apapun itu.”

So, tell me.” Jaejoong menatap Jiyeon, memohon. “Seperti apa mereka?”

“Kau tidak akan pernah melihat mereka.” Jiyeon membuang pandangannya.

“Kenapa?”

“Karena mereka invisible.

Jaejoong menghela napas. “Lalu, apalagi?”

“Untuk apa kau melakukan ini?” Kali ini Jiyeon menatap Jaejoong yang sedari tadi duduk di depannya.

“Karena aku ingin kau mempercayaiku? Karena aku ingin melihatmu tidak ketakutan lagi? Karena aku peduli padamu?” Jaejoong menjawab, menaikan sebelah alisnya.

“Katakan jika kau melakukan sebuah penelitian tentang mereka. Bagaimana jika mereka… melukaimu? Menyerangmu?”

“Menyerangku untuk datang ke perpustakaan?” Jaejoong terkekeh. “Kau melihat mereka melukai seseorang?”

“Ya.” Jiyeon bangkir dan berjalan menuju jendela. Di luar ia melihat tiga fairies berada di tepi jalan. Salah satu dari ketiganya hampir terlihat seperti manusia. Tapi dua lainnya tidak. Mereka terlihat seperti beruang—penuh dengan bulu coklat tebal—yang dapat berjalan dengan tegak.

“Tapi dua fairies yang mengikutiku tidak menyerang manusia, entahlah. Beberapa fairies memegang orang, menjegal mereka, mencubit. Kadang susuatu yang bodoh untuk dilakukan. Kadang lebih parah lagi. Kau tidak akan ingin terlibat dengan mereka.”

“Aku ingin, Jiyeon. Tolong, percayalah padaku.”

“Tidak. Jangan terlibat dengan mereka. Kau tidak pernah tau seperti apa mereka terlihat.”

Tell me then.”

“Kebanyakan dari mereka terlihat sangat menyeramkan.” Lalu bayangan Kris muncul dalam benak Jiyeon, membuat pipi gadis itu memanas dan membuat warnanya kemerahan.

“Tidak semua?” Pancing Jaejoong.

“Tidak. Hanya kebanyakan dari mereka.”

.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

11 thoughts on “Wicked Lovely (Part 2)

  1. kyeon says:

    Mash bingung.. Knpa jiyeon bisa lihat para fairy.. Lalu kaitan kriss bersikeras milih jiyeon sbagai ratu musim panasnya ??? Msh bnyak mistery.. Harap updte nya cepat y ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s