Wicked Lovely (Part 3)

Wicked Lovely

Faeries could make themselves seen or not seen at will. And when they took people they took the body and soul together. –The Fairy Faith in Celtic Countries by W.Y Evans-Wentz (1911).

jessica-and-krystal-show-more-sisterly-love-in-photoshoot-for-tonehenge_88_%e5%89%af%e6%9c%ac

Chapter 3

Featuring:

Park Jiyeon

Kris Wu

Krystal Jung

Kim Jaejoong

.

.

.

Jiyeon memejamkan matanya ketika selesai memberi deskripsi tentang faeries yang selama dua minggu membuntutinya kepada Jaejoong. “Mereka adalah faeries kerajaan. Hanya itu yang kutahu. Faeries dipimpin oleh raja atau ratu yang mempunyai kuasa yang sangat berpengaruh. Mereka dapat melakukan apapun tanpa menanggung konsekuensinya. Mereka sangat kuat.” Jiyeon membayangkan beberapa faeries yang selama ini menunduk dengan hormat pada kedua faeries yang mengikutinya. Faeries kerajaan adalah yang paling berbahaya: mereka yang mempunyai kekuatan dan kuasa.

Jiyeon menggigil dan menambahkan, “Aku hanya tidak tahu apa yang mereka inginkan. Kau tahu, mereka adalah bagian dari dunia lain yang tidak dapat dilihat manusia. Tapi… tapi aku melihatnya dan mereka tidak pernah tahu.”

“Jadi, kau melihat yang lain, yang tidak mengikutimu?”

Jiyeon menatap Jaejoong dan tertawa. Bukan karena itu adalah yang lucu. Tapi karena pertanyaan itu simpel dan jawabannya sudah jelas, mengerikan. “Aku rasa jawabannya adalah ya.” Ucap Jaejoong.

“Ya.” Jawab Jiyeon ketika tawanya terhenti. “Mereka nyata. Ada banyak faeries, makhluk ini hampir berada dimanapun. Sesuatu yang buruk, menyeramkan. Beberapa berupa makhluk yang sangat buruk dan menyeramkan. Beberapa terlihat sangat menawan. Beberapa yang lain terlihat menawan dan menyeramkan disaat bersamaan.”

Jaejoong mendengarkan.

“Mereka… beberapa dari mereka melakukan sesuatu yang buruk pada yang lainnya.” Tambah Jiyeon. Ia berbalik menatap Jaejoong yang masih setia duduk di atas meja.

Fairy yang bernama Kris itu, dia mendekatiku, membuat dirinya terlihat seperti manusia dan mencoba untuk mengajakku pergi.” Jiyeon menghirup napas panjang. Ia mencoba menenangkan dirinya. Saat ini dia bisa mendengar suara deruan napas dan detak jantungnya, juga deruan napas dan detak jantung Jaejoong. Ia bahkan mendengar suara percakapan diluar sana dengan jelas.

Sejak kapan aku bisa mendengar suara sepelan itu?

Jiyeon memikirkan tentang Kris. Memikirkan tentang bagaimana ia akan menjelaskan kekuatan Kris yang ia rasakan. Kris terlihat kebal terhadap baja di kota tadi, suatu fakta yang sangat mengerikan, bahkan ia dapat mempertahankan glamour-nya.

“Jadi, apakah mereka mempunyai semacam pengadilan? Mungkin kau bisa bicara pada raja atau ratu mereka?”

“Tidak. Granny mengatakan bahwa faery kerajaan adalah yang paling kejam. Aku tidak membayangkan untuk bisa menghadapi sesuatu yang lebih kuat. Aku bahkan tidak mempunyai kekuatan untuk menampakkan diriku kepada mereka, membiarkan mereka mengetahui bahwa aku dapat melihat mereka. Mereka tidak boleh mengetahuinya. Kata Granny, mereka akan membunuh atau membuat buat orang yang dapat melihat mereka.”

“Mungkinkah jika mereka adalah makhluk lain, Jiy?” Jaejoong berdiri dan sekarang berhadapan dengan Jiyeon. “Bagaimana jika ada penjelasan lain dari apa yang kau lihat?”

Jiyeon menggenggam jarinya, mengepalkan jari-jarinya sehingga ia dapat merasakan kuku jarinya mengenai telapak tangannya. “Aku akan sangat senang jika ada penjelasan atau jawaban lain. Aku sudah melihat mereka sejak aku lahir. Granny melihat mereka. Ini nyata. Mereka nyata.”

Jiyeon tidak mampu untuk melihat Jaejoong. Ia melayangkan pandangannya kebawah, menatap tangannya yang mengepal.

Jaejoong meraih dagu gadis di depannya sehingga Jiyeon mau tak mau menatap Jaejoong. “Pasti ada sesuatu yang dapat kita lakukan.”

“Bisakah kita membicarakan ini besok? Aku butuh…” Jiyeon menggelangkan kepalanya. “Aku rasa cukup untuk malam ini.”

“Kemarilah. Aku akan mengantarmu pulang.” Jaejoong tersenyum.

“Kau tidak perlu mengantarku pulang.” Jaejoong mengernyitkan alisnya, sedangkan tangannya sudah terulur, menanti.

“Tapi, kau boleh mengantarku pulang.” Jiyeon menyambut uluran tangan Jaejoong.

.

.

.

Mereka berjalan dalam diam sampai mereka sampai di depan toko milik Jiyong. Bagian depan toko tersebut hampir berupa jendela seluruhnya, membuat toko tersebut terlihat tidak begitu mengintimidasi. Tidak seperti kebanyakan toko tato dan piercing yang pernah Jiyeon jumpai, toko ini bukanlah tipe toko yang glossy. Peaceminusone mempersembahkan sebuah distro yang mempersembahkan sebuah karya seni.

Lonceng sapi yang tergantung diatas pintu masuk toko berdenting ketika Jiyeon dan Jaejoong melangkah masuk. Jiyong mengintip dari salah satu ruangan disana, melambaikan tangannya dan terseyum kemudian menghilang untuk kembali melanjutkan aktifitasnya.

Jaejoong menghampiri meja kopi yang terletak disalah satu sudut toko dimana berbagai katalog tersedia diatasnya. Ia menemukan sebuah katalog baru dan mulai membukanya. “Kau mau ikut melihat bersamaku?” Tawarnya pada Jiyeon yang hanya dibalas gelengan kecil.

Jiyeon beralih kesudut lain toko tersebut. Sebuah etalase dari kaca yang memajang berbagai jenis piercing. Jari tangannya yang lentik terulur dan bergerak disekeliling kaca bagian atas etalase tersebut. Sebenarnya ia ingin sekali menambah jumlah piercing pada telinganya. Ia hanya mempunyai satu piercing pada masing-masing telinga. Granny tidak mengijinkannya menambah piercing.

Lonceng sapi diatas pintu mendenting lagi. Jennie, salah satu teman kelas Jiyeon berjalan memasuki toko. Dibelakangnya, seorang namja bertato berjalan mengikuti. Namja itu terlihat sangat menawan. Dia juga seorang fairy.

Jiyeon membeku, mengamati laki-laki itu. Ia merasa bumi dibawah kakinya menyeretnya kedalam.

Terlalu banyak fairy menyamar sebagai manusia. Terlalu banyak fairy kuat malam ini. Batin Jiyeon menjerit.

Namun, fairy tersebut sama sekali tak memperhatikan Jiyeon. Ia berjalan ke salah satu ruangan di dalam toko sembari jarinya membuat garis mengikuti salah satu etalase perhiasan yang berpinggiran besi.

Jiyeon tidak dapat mengalihkan padangannya, belum. Kebanyakan fairies tidak berjalan dipinggiran kota, mereka tidak menyentuh benda yang terbuat dari besi, dan mereka tidak dapat mempertahankan penyamaran mereka saat mereka menyentuh besi, besi merupakan racun bagi mereka. Itulah peraturannya. Jiyeon percaya pada semua peraturan itu. Sampai saat ini. Saat ia melihat sendiri apa yang fairy itu lakukan. Memang ada beberapa pegecualian—terutama untuk fairy yang sangat kuat. Namun tidak sebanyak ini, tidak muncul disaat bersamaan, dan tidak diwilayah yang Jiyeon anggap aman.

“Jiyeon? Hei…” Jennie meraih tangan Jiyeon, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Jiyeon menggelangkan kepalanya. Tidak ada yang baik-baik saja. Tidak ada.

“Ya, aku baik-baik saja.” Jiyeon melihat kedalam ruangan dimana fairy itu terlihat menunggu. “Siapai temanmu itu?”

“Dia sangat sexy bukan?” Jennie berbisik pada Jiyeon. “Aku baru saja bertemu dengannya.”

Jaejoong melihat kearah Jiyeon dan memutuskan untuk menutup katalog yang sedang dilihatnya, menghampiri gadis itu. “Kau siap untuk pulang?”

“Tunggu sebentar.” Ujar Jiyeon. “Kau tidak akan mengajaknya ke pesta yang diadakan oleh Lisa, kan?”

“Jaewon? Apa kau piker dia akan menjadi pusat dalam pesta?”

“Dia terlihat sangat berbeda dari ‘teman’ yang biasanya kau ajak.”

Jennie menatap Jaewon cukup lama. “Sayangnya dia terlihat tidak tertarik.”

Jiyeon menghela napasnya lega. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa temannya berkencan dengan seorang fairy.

”Aku ingin tahu apakah kalian akan datang ke pesta—kalian berdua.” Jennie menatap Jiyeon dan Jaejoong bersamaan.

“Tidak.” Jaejoong menjawab dengan cepat, tanpa memberitahu alasannya.

“Kalian memrencanakan sesuatu yang lebih baik?”

“Selalu. Aku hanya akan ke pesta kalau Jiyeon memaksaku.” Jaejoong mengalihkan pandangannya pada Jiyeon. “Kau siap?”

“Lima menit.” Jiyeon tidak bermaksud membuat Jaejoong menunggu, tapi membiarkan temannya berkeliaran bersama fairy juga bukan pilihan yang baik. Jiyeon menatap Jaejoong lagi, “Jika kau ingin pergi, aku bisa pergi bersama Jennie…”

“Tidak.” Jaejoong melangkah sedikit menjauh, mengedarkan pandangannya pada gambar-gambar yang terdapat pada bingkai pada sekeliling dinding toko.

“Jadi, apa yang kalian lakukan?” Jennie bertanya.

“Apa?” Jiyeon menatap Jennie yang sedang menyeringai. “Oh, dia hanya mengantarku pulang.”

Jennie menatap Jiyeon dengan pandangan aneh. “Mengantarmu pulang, dan itu lebih baik dari pergi ke pesta?” Jennie melingkarkan lengannya pada lengan Jiyeon. “C’mon, Jiyeon. Sampai kapan kau akan menarik ulur dia? Ini menyedihkan, baginya.”

“Apa maksudmu…”

“Oh Jiyeon. Kau tahu bahwa ia menganggapmu lebih dari sekedar teman.”

“Tidak, Jen. Dia tidak begitu. Setidaknya jika memang dia mempunyai rasa lebih kepadaku, dia akan mengungkapkannya.”

Well, dia mengungkapnya. Kau saja yang tidak tahu.”

“Dia hanya bergenit-genit kepadaku. Meskipun dia memang bermaksud begitu, I don’t wanna be his one-nighter.”

Jennie menggelangkan kepalanya secara dramatis. “You need to live a little, girl. Tidak ada salahnya menjalani cinta yang singkat, jika mereka hebat. Dan aku dengar, dia hebat.”

Jiyeon tidak ingin memikirkannya. Dia tahu bahwa Jaejoong tidak suka menjalin suatu ikatan lebih dari one-night-stand. Jiyeon tahu bahwa Jaejoong kerap kali bersama wanita-wanita lain. Tapi dia tidak ingin memikirkan itu saat ini.

Tepat saat itu Jaejoong kembali disamping Jiyeon dan merangkulkan tangannya pada bahu gadis itu. “Kita pulang. Ini sudah hampir larut.”

Jiyeon melangkah mengikuti Jaejoong. Dilihatnya Jennie menggerakkan mulutnya tanpa suara, “Deaf.” Lalu terkikik geli.

Saat ini, saat dirinya bersama dengan Jaejoong, Jiyeon tidak ingin memikirkan hal lainnya. Terlebih jika itu adalah sesuatu yang membuatnya kehilangan ikatan persahabatan yang selama ini dijalaninya.

.

.

.

To be continued.

.

.

.

.

.

Maaf sekali untuk update yang sangat telat ini 😦

Selama bulan Februari hingga awal Maret kemarin saya disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan ujian skripsi dan yudisium 😦

Semoga masih ada yang menanti ya 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Wicked Lovely (Part 3)

  1. emapcy says:

    Wahh keren! Kris nya gak ada nih di chap ini. Pokoknya ditunggu next chapnya eonni :* Panjangin dikit ya eon.. Haha #maksa #plak

    Fighting!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s