We Got Married (Prologue)

We Got Married

(Prologue)

 

large (1)

Featuring:

Jennie Kim

Blackpink

.

.

.

 

Unnieeeeeeeee…

Seorang yeoja berlari dari arah pintu masuk dorm dengan tergesa. Ia terus berteriak memanggil unnie-nya sepanjang jalan. Tiga orang yeoja yang berada dalam dorm, unnie dari yeoja yang tengah heboh itu sudah tidak terkejut lagi dengan tingkah magnae itu.

“Ya! Nalalisa, wae irae?” Tanya seorang yeoja berambut hitam yang tengah memeluk anjing kesayangannya dalam pangkuan. Kedua yeoja lainnya hanya terdiam. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah magnae mereka yang ajaib.

Unnie! Ini gawat! Benar-benar gawat!” Lisa berbicara tanpa bernapas. Wajahnya memerah karna berlari sepanjang jalan tadi.

“Apa? Apa yang gawat?” Kali ini yeoja berambut orange kecoklatan yang menimpali.

Sajangnim! Ia…

“Menunda comeback kita lagi? Aku sudah kebal dengan sajangnim yang seperti itu.” Potong yeoja tadi.

“Rochangie! Aku belum selesai berbicara. Jangan potong ucapanku.” Lisa memajukan bibirnya, kesal.

Sementara ini Jisoo, yeoja bersurai hitam, dan Rosé, yeoja berambut orange coklat itu hanya terkekeh melihat tingkah sang magnae.

“Sudahlah. Ada apa sebenarnya?” Yeoja berambut keabu-abuan yang sedari tadi diam membaca majalah akhirnya membuka suara.

“Ninie unnie memang terbaik!” Lisa berjalan dan duduk memeluk yeoja yang dipanggilnya Ninie tadi.

“Cepat katakan ada apa, pabo!” Rosé menjadi tidak sabar dengan kabar yang dibawa Lisa.

Ppali ppali ppali.” Jisoo menimpali. Sekarang semua mata tertuju pada Lisa.

“Aku baru saja mendapat pesan dari sajangnim. Beliau memanggil Jenjen unnie untuk menemuinya.” Ujar Lisa sembari menatap Jennie, yeoja yang kerap dipanggil Ninie atau Jenjen itu hanya menatap Lisa dengan bingung.

“Ada apa sajangnim memanggilmu?” Ujar Jisoo.

“Apa unnie ketahuan berkencan dengan Hanbin oppa?” Tanya Rosé.

“Aku bahkan tidak berkencan dengan Hanbin, pabo.” Jennie memukul ringan kepala Rosé dengan majalah. Rosé hanya terkikik sembari mengusap kepalanya.

“Aku akan menemui sajangnim dulu. Kalian, jangan membuat kacau dorm selama aku pergi.” Jennie berdiri dari duduknya dan memberi pandangan memperingatkan pada ketiga rekannya.

“Siap, Bos!” Ujar ketiganya bersamaan.

“Jen, jangan lupa ceritakan pada kami apa yang terjadi.” Pesan Jisoo.

Fighting unnie.” Tambah Lisa disertai sebuah flying kiss.

Sepeninggal Jennie, ketiga member Blackpink yang tersisa hanya duduk melanjutkan kegiatan masing-masing. Lisa, gadis berponi tengah dan rambut blonde, beralih menuju dapus dan membuka lemari pendingin yang ada disana.

“Apa yang kau cari, Lis?” Rosé mengagetkannya dari belakang.

“Rochangie aku lapar. Apa tidak ada makanan lain selain ramen?”

“Tidak ada sepertinya. Aku juga lapar. Bagaimana kalau kita belanja dan makan diluar?” Ujar Rosé memberi ide.

Assa! Kajja kalau begitu.” Mereka melewati ruang tamu dan berpapasan dengan Jisoo.

Unnie, kau mau ikut dengan kami? Belanja dan makan, Unnie. Kami lapar.” Rosé berbicara mewakili Lisa yang sedang memasang ekspresi memelas dan kelaparan.

“Baiklah, Unnie ikut kalian. Tapi pakai masker dan topi dulu. Terutama Lisa, rambutnya sangat mencolok.”

Lisa hanya menyeringai sebelum berlalu untuk mengambil masker dan topi hitam kesayangannya.

.

.

.

Jennie POV

Kenapa sajangnim memanggilku tiba-tiba ya…

Setahuku aku tidak melakukan kesalahan apapun.

Aku berjalan menuju gedung agensi dengan pikiran kacau, bertanya-tanya alasan sajangnim itu memanggilku.

Sesampainya di gedung agensi, aku tidak sengaja bertemu dengan Hanbin, leader iKON. Atau mungkin sekarang berganti nama menjadi iJON atau iCON karena mereka terlalu sering mengikuti acara musik dan konser di Jepang dan China.

“Hai, Jenjen. Tumben kau sendirian.” Sapa Hanbin saat kami berada dalam lift.

Sajangnim memangilku. Kau sendiri? Biasanya kau tidak pernah lepas dari pengawalmu.” Balasku sembari menatapnya.

“Pengawal?” Hanbin bertanya kebingungan.

“Ya, pengawalmu. Kimbob dan June.” Ujarku sembari menyeringai.

Hanbin tertawa begitu paham yang kumaksud dengan pengawal. “Mereka sudah terlebih dulu sampai di ruang latihan.”

“Ah, akhirnya kalian kembali menjadi iKON.” Kami terkekeh setelah aku mengucapkan kata-kata ‘kembali menjadi iKON’.

“Hei, ngomong-ngomong kenapa sajangnim memanggilmu sendiri?”

Lift berdentang dan kami sampai dilantai 4, tempat ruang latihan dan kantor sajangnim berada.

“Entahlah aku juga tidak tahu.” Kami berjalan keluar dari lift.

“Hati-hati, siapa tahu comeback-mu akan ditunda.” Ujar Hanbin disertai dengan kekehan.

“Kalau sampai itu benar, kau yang pertama aku pukul, Kim Hanbin.” Aku melayangkan death-glareku padanya. Hanbin hanya menjulurkan lidahnya dan berbelok memasuki ruang latihan.

.

.

.

Saat di depan ruang sajangnim, aku merasa sangat mual, takut sajangnim akan memberikan omelan-omelan pedasnya atau menunda comeback kami. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, aku pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan sajangnim.

Knock…knock…knock

“Masuklah.” Sajangnim mempersilakanku untuk masuk. Masih dengan rasa tak karuan, aku masuk ke  dalam ruang sajangnim.

“Jennie-a, duduklah.” Aku menuruti kata-kata sajangnim dan duduk di salah satu kursi yang tersedia.

“Ada apa sajangnim memanggilku kemari?” Tanyaku takut-takut.

“Aku memikirkan sebuah tawaran dari MBC untuk salah satu program reality show-nya.” Sajangnim memandangku. Aku masih terdiam, tidak paham akan arah pembicaraan ini. “Jadi, MBC menanyakan apakah kau mau ikut dalam program itu.”

“Eum… sebelumnya, program apakah itu, sajangnim?”

We Got Married.”

.

.

.

.

.

To be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s