Wicked Lovely (Part 4)

Wicked Lovely

wu-yi-fan_副本

“When you will be King of Summer she will be your queen. Of this your mother, Queen

Beira, has full knowledge, and it is her wish to keep you away from [her], so that her own

reign may be prolonged.”

Wonder Tales from Scottish Myth and Legend by Donald Alexander Mackenzie (1917)

 

 

Part 4

 

Featuring:

Park Jiyeon

Kris Wu

Krystal Jung

Kim Jaejoong

.

.

.

.

.

Disalah satu perumahan elit bergaya Victoria, dimana hanya orang-orang tertentu yang dapat tinggal disana, tak satupun orang yang memperhatikan bahwa ada sebuah rumah yang terlihat sangat berbeda. Perbedaan itu bahkan Nampak oleh mata manusia biasa. Namun bagi mereka yang dapat melihat, rumah itu sesungguhnya selalu tertutup oleh lapisan es salju, entah itu dimusim dingin seperti sekarang atau bahkan dimusim panas yang panas.

Kris berdiri di depan rumah itu dengan enggan. Ia menghela napas panjang sebelum berkata ‘welcome home’ pada dirinya sendiri. Rumah ini tidak pernah terasa seperti rumah baginya. Baginya, Jessica pun tidak pernah terasa seperti seorang ibu.

Dengan berat hati, ia melangkah memasuki rumah mewah. Keadaan di dalam bahkan lebih buruk. Udara disana sangatlah dingin, seakan dinginnya cuaca diluar belum cukup dingin. Bahkan untuk seorang sepertinya, udara di dalam rumah itu masih terasa dingin, hampir sakit rasanya untuk bernapas.

Kris mencoba untuk menghalau hawa dingin itu dengan kekuatan yang ia miliki. Namun, itu tidaklah cukup, setidaknya sampai dititik dimana ia mendapatkan kekuasaan penuhnya. Terlebih ia berada dalam rumah—istana sang Ratu Musim Dingin.

Semoga Jiyeonlah yang selama ini aku cari. Semoga dialah yang akan membawa perubahan.

Di dalam ruang keluarga—atau begitu biasanya para mortal menyebut ruangan itu, Jessica berdiri dengan nampan perak berisi sepiring kukis. Ia berjalan menghampiri Kris dan mencium udara didekat wajah namja itu. “Kukis, darling?”

Dia terlihat sama seperti berabad-abad sebelumnya, kali ini dengan gaun seperti yang digunakan oleh sebagian manusia: gaun bermotif floral, apron berwarna merah muda pucat, dan sehelai kalung perak melingkar di lehernya. Rambutnya sewarna salju, ditata dengan sedemikian rupa sehingga setengah dari rambutnya terangkat dan membentuk kepang yang cantik, dan setengahnya lagi dibiarkan terurai melewati punggung.

Dia menggerakkan nampan itu di depan wajah anaknya. “Kukis ini baru selesai dipanggang. Hanya untukmu.”

No.” Kris mengabaikan wanita itu dan berjalan menuju kamarnya.

Ruang keluarga itu sudah didekorasi ulang dari terakhir kali saat Kris berkunjung. Meja kayu dengan alas sutera putih seputih salju, sofa kaku berwarna hitam, beberapa bingkai foto pembunuhan, hukum gantung, dan adegan kekerasan berwarna hitam-putih tergantung di dinding berwarna putih pucat. Dibagian dinding yang lain tergantung beberapa gambar ‘pilihan’, gaun, bibir, dan luka yang berdarah yang tentunya berwarna merah. Merah adalah satu-satunya yang berwarna dalam rumah itu. Semua sangat menggambarkan Jessica. Lebih mewakili sosok dirinya daripada gaun yang dipaksakan yang ia kenakan tadi.

Di seberang ruangan, dibalik bar yang terlihat basah, berdirilah seorang fairy musim dingin dengan beberapa luka, “Minum, Tuan?”

“Kris, sweetheart, jika kau perlau apa-apa, katakan pada gadis itu. Aku perlu memeriksa roti panggangnya.” Jessica berhenti sekejap, masih dengan nampan kukis di tangannya. “Kau aku tinggal untuk makan malam bukan?”  Ia menatap anak semata wayangnya itu.

“Apakah aku punya pilihan lain?” Kris lagi-lagi menghiraukan keberadaan wanita itu. Pandangannya terfokus pada salah satu foto yang terpajang di dinding. Gambar hitam-putih tersebut menampilkan sebuah gurun.

“Oh…gurun. Setelah berabad-abad aku menguasai hawa dingin ini, gurun masih saja tempat yang berada diluar jangkauanku. Well, untuk saat ini.” Jessica menyadari apa yang menjadi atensi Kris. “Aku akan kembali setelah ini. Lalu, kita akan berbicara layaknya seorang ibu dan anak membicarakan gadis baru anaknya.” Jessica tersenyum lalu berlalu menuju dapurnya, menyendandungkan lullaby yang biasa ia nyanyikan saat Kris masih bayi, yang Kris tau bahwa lagu itu menceritakan sesuatu seperti jari yang membeku. Bagi Kris, senyum Jessica adalah ancaman.

Kris tau jika ia mengikuti ibunya itu, ia akan melihat beberapa fairy musim dingin dengan wajah datar seperti es, namun menyimpan ketidak sukaan pada ratu mereka. Jessica bukanlah tipe yang dapat memasak. Yang ia lakukan hanya menghancurkan semua, termasuk api yang digunakan untuk memasak. Lagipula, dapur dalam rumah ini terlihat terlalu besar dan dingin.

“Minum, Tuanku?” Fairy musim dingin tadi kembali menawarkan minuman padanya. Kali ini gadis itu membawa dua nampan berisi segelas susu, teh, coklat panas, dan beberapa minuman nutrisi kemasan. Nampan satunya berisi stik wortel, apel, dan cemilan sehat lainnya. “Ibu Anda memaksa saya untuk membawakan makanan sehat dan bernutrisi untuk Anda, Tuanku.” Kris bergeming dari tempatnya berdiri. “Tuanku, membuat Sang Ratu murka adalah perbuatan yang tidak bijaksana.” Kris mengambil secangkir coklat panas dan sebuah apel. “Kau pikir?”

Besar dan tumbuh dalam Kerajaan Musim Dingin membuat Kris merasa tidak asing dan heran dengan apa yang terjadi pada mereka yang membuat Sang Ratu Musim Dingin marah—atau bahkan merasa terganggu. Tapi dia akan berbuat semampunya untuk membuat Sang Ratu marah. Setelah semuanya, itulah alasan ia datang kemari.

.

.

.

“Sudah hampir matang.” Jessica datang dan duduk pada salah satu sofa kaku yang ada dalam ruang keluarga. “Kemarilah. Ceritkan semua padaku.” Ia menepuk sofa terdekat, memberi tanda agar Kris duduk disebelahnya.

Kris memilih untuk duduk sejauh mungkin dari ibunya itu. “Dia susah didekati.” Ia berhenti sejenak, memikirkan rasa takut yang terpancar pada mata Jiyeon saat ia berusaha mendekatinya kemarin. Itu bukanlah respons yang selama ini ia dapatkan dari gadis lainnya. “Dia menolak ajakanku untuk pergi bersama.”

Tanpa mengalihkan pandangannya dari Kris, Jessica menggerakkan jarinya, meminta salah satu fairy musim dingin untuk medekat. Dan tanpa diminta, fairy itu membawakannya segelas cairan bening untuk dimimun. Bagitu jari-jari lentik Jessica menyentuh pinggiran gelas, seberkas embun es terbentuk. “Aku paham.” Jessica mengangguk dan menyilangkan salah satu kakinya diatas kakinya yang lain. “Dan… apakah pacar terakhirmu telah membari persetujuan?”

“Krystal menyetujuinya.”

Jessica mengetukkan jari lentiknya pada pinggiran gelas kaca yang sekarang tertutup lapisan es itu. “Lovely. Bagaimana kabar Kryssie?”

Kris menghela napas panjang. Ibunya sudah mengenal Kristal selama bertahun-tahun namun ingatan buruknya itu tidak pernah pandai mengingat nama. “Krystal. Namanya selama bertahun-tahun adalah Kristal. Dan seperti biasa, dia marah padaku. Dia lelah dan kesal. Dia melakukan apapun yang kau suruh.”

Jessica mengankat tangan kirinya dan mengamati kuku panjangnya yang terpotong rapi. “Apa yang aku lakukan padanya? Katakan padaku.”

“Ini semua adalah perbuatanmu. Tongkatmu, ikatanmu, ancamanmu ketika kau memulai yang kau sebut dengan permainan ini untuk pertama kalinya. Kau tahu apa yang akan terjadi pada gadis-gadis manusia itu saat pertama kali mereka menyentuh hawa dinginmu. Manusia tidak diciptakan untuk…

“Aah, darling, tapi kau yang meminta mereka untuk melakukannya. Kau memilih mereka, dan mereka memilihmu.” Jessica duduk bersandar pada sofanya. Tangannya terjulur dan terbuka, lalu tongkat yang mereka bicarakan muncul ditangan terbukanya itu. “Dia bisa saja memilih untuk bergabung dengan kumpulan gadis musim panasmu. Tapi dia berpikir bahwa dia dapat menaklukan resiko untuk menjadi Gadis Musim Dinginku. Dia mengira bahwa kau pantas untuk diperjuangkan dengan resiko yang ia terima.” Jessica mencebikkan bibirnya pada Kris. “Sedih, memang. Gadis itu dulunya sangat cantik dan penuh semangat hidup.”

“Dia masih seperti itu.”

“Benarkah?” Jessica memelankan suaranya, berbisik. “Aku dengar-dengar dia sudah semakin lemah dengan hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya. Akan sangat memalukan dan menyedihkan jika dia menghilang dimakan hawa dingin.”

“Krystal baik-baik saja.”Kris marah pada fakta bahwa dirinya sangat mudah terpancing amarah jika berada dekat dengan ibunya. Bayangan tentang Krystal yang melebur menjadi serpihan es—meninggal dan terperangkap dalam eternity—adalah sesuatu yang selalu membuat Kris marah. Kematian fairy adalah sebuah tragedy. Karena saat fairy meninggal, mereka tidak akan pernah dilahirkan kembali.

“Mari tidak bertengkar, dear. Aku yakin Kiara akan baik-baik saja sampai kau menemuka gadis berikutnya dan meyakinkan gadis itu bahwa kau pantas dan berharga untuk sebuah pengorbanan. Atau mungkin Kione tidak akan melawanmu saat ini dan malah membantumu membujuk gadis berikutnya.”

“Krystal akan tetap menjalankan tugasnya. Dan aku akan menjalankan tugasku. Tidak ada yang akan berubah, tidak sebelum aku menemukan Ratu Musim Panasku.”

Kris berdiri dan melangkah ke depan sampai ia harus melihat Jessica dibawahnya. Dia tahu dia tidak akan bisa menang melawan ibunya. Kekuatan dan kekuasaan yang ia miliki sekarang belumlah cukup untuk melawan san Ratu Musim Dingin. Ia harus bersabar untuk menemukan Ratu Musim Panasnya. Apapun yang terjadi, dirinya masihlah seorang Raja Musim Panas. Dan seorang raja tidak menerima perintah, ia yang memerintah.

“Kau tau, Ibu, aku akan menemukannya. Salah satu dari gadis-gadis yang aku temui akan menggenggam tongkatmu itu, dan hawa dingin darimu tidak akan menyentuhnya.”

Jessica meletakkan gelasnya, “Benarkah?”

Kris sangat geram dengan tingkah arogan ibunya. “Ya. Suatu hari nanti, aku akan mendapatkan semua milikku sepenuhnya, kekuatan, kekuasaan, kerajaan, rakyatku, seperti yang ayah dapatkan. Masamu akan berakhir. Tidak akan ada lagi hawa dingin yang menyusahkan dan mematikan. Tidak aka nada lagi ketidakadilan.” Kris memelankan suaranya. “Dan kita akan lihat, siapa yang lebih kuat sebenarnya.”

Jessica duduk dalam diam, sebelum akhirnya berdiri, menyentuhkan jari telunjuknya yang lentik pada bahu Kris, mendorong namja itu. Lapisan es terbentuk pada tempat jari Jessica menyentuh bahu Kris. Lapisan e situ menyebar, membuat Kris merasakan rasa teramat sakit.

“Pidato yang sangat menawan, anakku. Setiap waktu semakin bagus, seperti acara di TV-TV manusia.” Dia mencium kedua pipi Kris dan meninggalkan jejak bibir berupa lapisan es yang menusuk melalui kulitnya. Saat ini seakan Jessica ingin mengingatkan anaknya bahwa dialah yang berkuasa, bukan anak laki-lakinya itu. “Itulah salah satu perjanjian yang kita buat. Jika kau sudah benar-benar menjadi raja, saat itulah aku kalah.”

Kris tidak tahu harus berkata apa. Jika ia mati disini, adakah orang yang akan menggantikannya menjadi Raja Musim Panas? Akankah seorang raja baru yang tidak terikat akan lahir? Dia terayun saat kesadarannya mulai memudar. Dia benci ibunya. Dia benci semua keadaan yang membuatnya seperti sekarang.

Jessica berbisik pada telinganya, “Aku yakin kau akan menemukan ratu kecilmu itu. Mungkin kau sudah menemukannya. Bisa saja Hyomin atau Nana yang kau temui beberapa tahun yang lalu, yang menolak untuk mencoba menggenggam tongkatku. Nana is a sweet girl. Dia bisa saja menjadi seorang ratu yang sangat mengagumkan. Tidakkah kau berpikir begitu?”

Kris menggigil. Badannya mulai lemah karena es yang menjalar masuk melalui kulitnya. Dia mencoba untuk mengeluarkan rasa dingin itu.

Aku adalah Raja Musim Panas. Dia tidak bisa melakukan ini padaku.

Beberapa pengawal rubah datang, “Kamar Tuan Muda sudah siap, Yang Mulia.”

“Kesayanganku ternyata terlalu lelah dan tidak bahagia bertemu dengan ibunya.” Jessica menghela napas, berlebihan dalam berakting bahwa ia tersakiti oleh tingkah anaknya.

Dengan jari telunjuknya lagi, ia mengangkat dagu Kris sehingga namja itu kini menatapnya. “Pergi tidur tanpa makan malam lagi? Mungkin suatu hari kau akan tetap  terjaga setelah ini.” Dia mencium dagu Kris, “Mungkin.”

Lalu semua gelap. Kris tidak lagi merasakan kakinya menjejak lantai rumah ibunya yang dingin. Pengawal rubah tadi dengan sigap membawa tubuh tuan mudanya pada kamar yang sudah disiapkan.

.

.

.

.

.

To be continued.

.

.

.

.

.

Apakah ada yang menunggu kelanjutannya? Hehe. Saya beberapa kali bertanya-tanya apakah ada yang menantikan cerita ini atau tidak. Well, semoga apresiasi dari teman-teman semua bagus 😀

Untuk next update akan saya usahakan untuk lebih panjang lagi.

A bunch of loves and thanks ❤

Advertisements

5 thoughts on “Wicked Lovely (Part 4)

  1. djeany says:

    Ada,kita semua menanti ini lanjutannya..
    Ini menarik sekali cerutanya ..
    Ibu musim dingin,ayah musim panas..
    Ahhh pkoknya seru..

    Like

  2. emapcy says:

    Tentu saja! Aku selalu menunggu ff ini eon 😀
    Ohh, rupanya Kris anaknya Ratu musim dingin toh.. Oalahh gimana ceritanya anak sama ibu musuhan:v Menarik sekali ceritanya.. Ditunggu sangat eon next chapnya..

    Fighting!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s