You’ve Got Me from Hello (part 1)

You’ve Got Me from Hello

(Part 1)

7846b13dgw1ekgeus21lcj20c80ic75z_副本

Cast:

Park Jiyeon

Wu Yifan

Lee Jieun

Kim Myungsoo

Leeteuk

 

(Again, this story is a remake version of Santhy Agata’s novel with the same title. I do not own this story and I do not mean to plagiarize her story. Disini Myungsoo saya jadikan pemeran antagonis, bagi yang kurang suka saya minta maaf >< I hope you can enjoy this story ^^ comment is very welcomed.)

PART 1

Jiyeon POV

Apartementku masih berantakan, belum sempat kurapikan pakaian dan beberapa barang pribadi yang baru aku beli, sebuah televisi dan dispenser kecil. Untunglah apartement ini sudah menyediakan perabotan dasar seperti tempat tidur, sofa, dan dapur. Aku memutar bola mataku ketika menatap dapur itu, sepertinya aku butuh berkunjung ke supermarket terdekat, mengisi bahan makanan di kulkas, dan membeli beberapa peralatan memasak.

Tubuhku lelah setelah perjalanan yang panjang dan dilanjutkan dengan mengurus surat-surat kontrak apartement baruku ini. Jieun, editor dan sekaligus sahabatku yang kebetulan tinggal di kota ini sudah berbaik hati membantu mencarikan apartement yang siap pakai untukku. Ya, Aku memang berangkat ke sini karena usul dari Jieun, meskipun kami kebanyakan berkorespondensi melalui email semata. Jadi, begitu aku menceritakan pengkhianatan Myungsoo dan rasa sakit hatiku, jieun mengusulkan agar aku pindah sementara ke kotanya sampai aku bisa menenangkan diri.

Aku hanya berpamitan kepada appa dan eomma, dan tidak mengatakan kepada siapapun. Tetapi lambat laun Myungsoo pasti akan mengetahuinya juga. Aku mendesah pahit. Sekarang ingatanku akan Myungsoo dipenuhi rasa muak dan sakit hati.

Ah ya ampun. Lelaki. Aku tidak akan pernah percaya lagi kepada lelaki. Mereka semua adalah mahluk lemah yang tidak tahan godaan.

Flashback on

Ingatan akan kejadian itu masih terasa begitu menyakitkan. Melihat dengan mata kepalaku sendiri akan pengkhianatan Myungsoo, kekasih yang sangat aku cintai. Lelaki yang kukira akan menjadi pasangan hidupku, selama-lamanya sampai tua. Apa yang aku lihat itu merupakan kehancuran bagi seluruh rencana masa depanku, pernikahan kami, kehancuran bagi segalanya, bagi hatiku, dan bagi kepercayaanku kepada semua laki-laki di dunia ini.

Teganya Myungsoo!! Tak henti-hentinya hatiku meneriakkan umpatan kepada mantan tunanganku itu.

Semula diawali dari telepon itu, sebuah telepon dari nomor tidak dikenal, yang entah kenapa aku angkat. Telepon itu dari seorang perempuan, yang menangis, mengatakan bahwa dia juga kekasih Myungsoo dan mengatakan bahwa Myungsoo telah meninggalkannya tanpa mau bertanggungjawab.

Oh, tentu saja pada awalnya aku tak percaya, tetapi perempuan itu mengajak bertemu, dan meskipun saat itu aku sangat yakin bahwa Myungsoo tidak mungkin berkhianat, Myungsoo tidak mungkin melakukan semua itu kepadanya.

Aku mau bertemu dengan perempuan yang menelepon itu, dengan tujuan awal ingin mengata-ngatai perempuan itu agar jangan memfitnah Myungsoo, tunanganku yang sangat setia dan tampan.

Tetapi kemudian, siang itu di sebuah café di ujung jalan, seluruh keyakinanku dijungkirbalikkan. Perempuan itu, Krystal, sudah mempersiapkan segalanya. Semua bukti yang diperlukan terhampar di hadapanku, menamparku keras-keras.

Di sana ada foto-foto mesra Myungsoo dan Krystal, yang menunjukkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Tentu saja! Seorang yang bukan kekasih tidak mungkin mencium pipi, berangkulan begitu erat dan saling memeluk seperti yang tergambar di dalam foto itu. Krystal juga menunjukkan pesan-pesan mesra mereka, dari nomor Myungsoo. Bahkan Myungsoo tidak pernah seromantis itu denganku, pesan-pesan mereka penuh dengan kata-kata cinta dan janji-janji muluk yang menyakitkan. Lalu seakan semua bukti belum cukup menghancurkan hariku, Krystal dengan tenang mengatakan bahwa kegadisannya sudah diserahkan kepada Myungsoo, dan bahwa sekarang keluarganya akan menuntut kepada keluarga Myungsoo.

Hatiku seakan dihancurkan oleh pengkhianatan yang begitu parah, bukan hanya karena Myungsoo berselingkuh di belakangku, tetapi juga karena Myungsoo telah begitu saja menghancurkan seluruh keyakinanku tentang lelaki yang baik.

Aku selalu menjaga diri sampai dengan usiaku yang sekarang, dua puluh dua tahun dan masih perawan. Meskipun kadang aku membiarkan Myungsoo mencium bibirku, tetapi hanya sebatas itu. Tidak pernah lebih.

Myungsoo pernah suatu kali meminta lebih, tetapi aku hanya mengangkat alis dan mengatakan apa yang aku yakini, nasehat eommaku, bahwa seorang lelaki yang baik, akan menjaga perempuan yang dicintainya, bukannya memaksa untuk merusaknya. Myungsoo saat itu menerima penjelasanku dengan lembut, dan bersumpah bahwa dia benar-benar mencintaiku, jadi tidak akan pernah merusaknya. Dan aku sangat bersyukur mempunyai tunangan seorang lelaki yang bisa menjaga moralnya, seorang lelaki yang baik dan tidak berorientasi kepada hasrat duniawi semata.

Sekarang semua pandanganku tentang Myungsoo – dan semua laki-laki lainnya hancur seketika itu juga. Myungsoo telah tidur dengan Krystal, lebih dari pada yang seharusnya. Bagaimana mungkin aku bisa memaafkan Myungsoo?

Malam itu aku bertemu dengan Myungsoo, dan memaparkan semuanya, bukti-bukti yang ada. Myungsoo tampak sangat marah, kepada Krystal, bukan kepadaku.

“Dan kau percaya apa yang dikatakan perempuan itu?” Tanya Myungsoo waktu itu.

Aku menatap lelaki itu. Yang dulu kucintai, bahkan mungkin sampai sekarang pun masih aku cintai meskipun cinta itu terasa menggores seluruh hatiku hingga terasa nyeri.

“Dia menunjukkan semua bukti-bukti itu, foto-foto mesra kalian berdua, pesan-pesan mesra kalian, masihkah kau membantah semuanya?”

Myungsoo tercenung tampak ragu, lama kemudian, dia menatapku dengan pandangan memohon.

Mianhae chagi-ya.”

Air mata pecah dari dasar hatiku, sejak siang tadi Krystal menemuiku, aku bahkan tidak bisa menangis, aku terlalu marah. Tetapi sekarang, berdiri di sini, berhadapan dengan Myungsoo yang mengakui segalanya membuatku tak bisa menahan diri lagi,

“Teganya kau melakukan itu kepadaku Myungsoo-ah, setelah pertunangan kita yang delapan tahun lamanya. Aku percaya padamu! Aku menghormatimu… aku…” Suaraku tertahan oleh napas yang mulai sesak oleh luapan perasaanku.

Myungsoo memijit keningnya tampak kesakitan.

“Maafkan aku Jiy, aku… aku khilaf, tidakkah kau mengerti? Aku tidak pernah menginginkan berselingkuh dengan Krystal dibelakangmu. Tetapi Krystal… Krystal, dia mengejarku, kau tahu dia juniorku di perusahaanku dan aku bertugas membimbingnya, dia… dia sangat tergila-gila dan terobsesi denganku, aku sudah berusaha menolaknya dengan berbagai cara, tetapi dia…. Dia tidak menyerah. Suatu malam, ketika hujan, dia mengetuk pintu apartementku, berkata bahwa mobilnya mogok di dekat situ dan dia kehujanan. Aku tidak punya kesempatan untuk menolaknya, dia… dia kemudian merayuku… dan aku….” Suara Myungsoo terhenti ketika melihat ekspresiku, “Jangan… jangan sayang, jangan merasa jijik kepadaku… aku hanya laki-laki biasa, aku menyesali semuanya, aku memang tidak tahan godaan, aku harap kau mengerti semuanya….,” Myungsoo mendekat, berusaha menyentuh tanganku, tetapi aku menepiskannya dengan kasar.

“Jangan sentuh aku” desisku geram, “Kau bisa saja bilang itu ketidak sengajaan untuk kejadian pertama, tetapi kalian melakukannya lagi dan lagi….dan aku yakin itu bukanlah suatu ketidak sengajaan…”

“Itu semua terjadi begitu saja!” Seru Myungsoo frustrasi, “Dia… dia selalu menyediakan diri, dan kupikir, semua tanpa komitmen, aku tidak tahu dia akan berbuat sejauh ini, menyakiti kau dan aku, berusaha menghancurkan hubungan kita, kau tahu? Aku sebenarnya sudah akan meninggalkannya.”

“Aku sangat kecewa Myungsoo.” Aku menyusut air mataku, semua kesedihanku berubah menjadi kemarahan, “Kau meniduri seorang perempuan dan menganggap itu hanya selingan sambil lalumu, pemenuhan kebutuhanmu…. Itu sangat tidak bermoral..”

“Maafkan aku Jiy, aku harap kau mau mengerti, lagipula pernikahan kita tinggal lima bulan lagi, kau tidak akan membiarkan ini menghancurkan semua rencana masa depan kita bukan? Aku akan membereskan semua masalah ini dan kita bisa melanjutkan semuanya.”

“Tidak!” Aku mundur selangkah, “Aku tidak mau melanjutkan apapun! Dan kurasa aku tidak akan pernah bisa! Kau… kau bukanlah lelaki yang kuinginkan untuk bersamaku sampai akhir hidupku. Ternyata aku salah selama ini Myungsoo,” Dengan kasar aku melepas cincin emas itu dari jemariku, cincin yang dipasangkan secara resmi oleh Myungsoo di depan seluruh keluarga kami ketika kami baru lulus dari SMU, delapan tahun yang lalu. “Kukembalikan cincin ini dan kuminta hatiku kembali, silahkan jelaskan semuanya kepada orang tua kita, karena aku sudah muak kalau harus mengulang semua ini lagi.,” kuletakkan cincin itu ke telapak tangan Myungsoo, “Selamat tinggal Myungsoo.”

Aku membalikkan tubuhku, dan tidak menoleh lagi ke belakang. Meskipun Myungsoo masih memanggilku dengan lembut, mencoba membuatku berubah pikiran.

Kemudian aku menjelaskan secara singkat keputusan bulatku kepada kedua appa dan eomma, menolak telepon-telepon dari orang tua Myungsoo agar aku mau memaafkan Myungsoo. Semua sudah selesai, babak hidupku yang ini sudah musnah, bersama dengan cintaku, seluruh masa depanku, dan rencana pernikahan kami setahun lagi. Aku menghadapi segalanya dengan kepala tegak meskipun hatiku hancur bukan kepalang.

Malam itu juga, aku mengepak segalanya dan mengambil keputusan untuk pindah ke kota lain. Aku adalah seorang penulis novel, aku bisa tinggal dimanapun yang aku mau, tidak terikat pada perusahaan manapun.

Maka aku memilih kota itu, kota yang menjanjikan penyembuhan, kota yang jauh, kota yang tak punya keterikatan apapun dengan masa laluku. Aku sudah bertekad, persetan dengan semua laki-laki. Aku tidak membutuhkannya. Akan aku tunjukkan kepada dunia yang kejam ini, bahwa seorang Park Jiyeon, bisa hidup tanpa harus meletakkan hatiku ke dalam genggaman mahluk jahat yang bernama Laki-laki.

Flashback off

Ponselku berkedip-kedip dan aku mengernyit, kemudian mengangkatnya ketika melihat nama Jieun di sana.

Yeoboseyo?

“Aku sudah sampai rumah dan baru teringat.” Jieun berkata, “Naskah bab tujuhmu sudah selesai dikoreksi, ada beberapa catatan kecil di sana, mungkin kau ingin melihatnya.”

“Aku akan melihatnya nanti.” Gumamku lemah, lalu menyandarkan tubuhku di sofa, “Saat ini aku lelah sekali.”

“Istirahatlah dulu. Kau tidak akan bisa menyelesaikan tulisanmu kalau kau sakit.”

“Kenapa kau memikirkan tulisanku? Bukan aku?” Aku tersenyum.

“Karena sudah mendekati deadline dan kau baru sampai di bab tujuh, Jiyeon, novelmu banyak ditunggu-tunggu oleh penggemarmu, penerbit sudah mengejarku untuk kepastian penyelesaian novelmu.” Jieun tergelak, “Tetapi bukan berarti aku tidak mempedulikanmu, sebagai sahabat aku mencemaskanmu, jangan banyak pikiran ya. Lepaskan semuanya dan biarkan hatimu tenang.”

Mataku berkaca-kaca. Menyadari bahwa hatiku sama sekali tidak tenang, “Gomawo Jieun-a.” Gumamku serak sebelum menutup pembicaraan.

Mataku nyalang menatap langit-langit kamar, mencoba melupakan rasa yang menyesakkan dada. Aku tidak akan bisa tidur malam ini, sambil menghela napas panjang, kumeraih jaketku dan melangkah keluar dari apartement.

***

Third person POV

Setelah berjalan tanpa tujuan di sekitar kompleks apartemennya yang cukup ramai karena terletak di area pusat perbelanjaan, Jiyeon memasuki cafe itu begitu saja. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi suasana tetap saja ramai.

Cafe itu terletak di pinggir jalan, di area yang dipadati pejalan kaki yang lalu lalang, suasananya sangat sejuk dan menyenangkan, karena dipenuhi oleh tanaman hijau yang ditata dengan indahnya, dengan dinding-dinding dari kaca yang memantulkan lampu jalan. Cafe itu buka duapuluh empat jam. Dan Jiyeon langsung menemukan tempat yang cocok untuk duduk dan menulis. Dia duduk di sebuah sudut yang nyaman dan membuka buku menu yang ada di meja. Suasana cafe cukup ramai meskipun sudah malam, seakan-akan kehidupan terus berjalan di dalam sini.

Pada saat yang sama seorang pelayan, pria setengah baya mendekatinya dan tersenyum ramah kepadanya.

“Selamat malam, apakah anda ingin memesan sesuatu?”

Jiyeon mendongak menatap wajah yang ramah itu dan tersenyum, “Saya ingin steak yang ada di menu ini.” Gumamnya pelan, lalu menatap pelayan yang membungkukkan tubuhnya dengan sopan setelah mencatat pesanannya dan melangkah pergi.

Jiyeon membuka laptopnya dan mulai menulis, tetapi baru beberapa detik dia mendesah. Novel yang ditulisnya adalah kisah romansa antara dua anak manusia yang saling mencintai. Jiyeon dulu sangat lancar menulis novel percintaan, kata-kata akan mengalir mudah dari jari-jarinya, membentuk rangkaian huruf yang membuaikan pembacanya, tetapi sekarang, setiap dia akan menulis kisah cinta, hatinya mencemooh, ingatan akan Myungsoo menyerbunya, membuat jemarinya kaku dan tidak bisa mengetikkan kisah romantis apapun. Ternyata menulis itu dipengaruhi oleh hati. Ketika dia patah hati, jemarinya menolak untuk menuliskan kisah cinta yang menyentuh hati. Jiwanya tidak percaya akan keindahan romansa, semua terasa palsu baginya sejak pengkhianatan Myungsoo kepadanya.

“Biasanya kalau aku susah mendapatkan inspirasi aku akan mendengarkan musik.”

Suara yang maskulin itu mengejutkan Jiyeon dari lamunannya, dia mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan sosok tampan yang begitu mendominasi ruangan, dengan pakaian serba hitam dan wajah klasik yang misterius.

Jiyeon mengernyitkan keningnya, menoleh ke belakangnya, tidak ada orang lain di dekatnya, jadi memang benar lelaki ini sedang menyapanya. Dia tidak mengenal lelaki ini, bagaimana lelaki ini bisa mengetahui bahwa dia sedang menulis?

“Para penulis biasanya datang ke cafe ini di malam hari, memenuhi setiap sudutnya dan berusaha mencari inspirasi.” Lelaki itu tersenyum, “Maafkan aku tidak sopan menyapamu begitu saja.” Dia mengulurkan tangannya, “Hallo, Aku pemilik cafe ini namaku Yifan.”

Jiyeon tetap ragu, meskipun begitu, demi kesopanan dia menyambut uluran tangan lelaki itu,

“Hallo….” Jiyeon masih bingung harus berkata apa, “Aku Jiyeon.” Gumamnya pelan. Masih terpukau atas senyum ramah dan ketampanan lelaki di depannya.

“Oke kalau begitu, aku harap kau tidak bosan berkunjung kemari.” Lelaki itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi.

Jiyeon masih terdiam, mengamati kepergian lelaki itu. Mungkin sudah budaya di cafe ini untuk ramah kepada para pelanggannya, pikirnya dalam hati.

Lelaki itu tampak baik, ramah dan sopan…. tetapi kemudian ingatan akan Myungsoo menyerangnya dan membuatnya merasa pahit. Semua laki-laki sama di dunia ini, meskipun yang berpenampilan paling sempurna sekalipun.

***

Jiyeon POV

“Dan dia sangat tampan.” Aku bercerita kepada Jieun tentang kejadian semalam, “Dia juga pemilik cafe yang indah itu.”

Jieun mengambil roti bakar di piringku, kami sedang menghabiskan minggu pagi di apartemenku, jieun berkunjung untuk membantuku merapikan tempat baru ini.

“Cafe itu cukup terkenal di kota ini, sangat ramai karena menyediakan semua yang dibutuhkan. Di pagi hari kau bisa memesan menu sarapan yang lezat, dan di malam hari, barnya dibuka sehingga semua orang yang ingin bersantai bisa duduk-duduk di sana selama mungkin dan menikmati minumannya. Tapi dari ceritamu, pemilik cafe itu sepertinya masih muda.”

“Masih muda.” Aku merenung, masih muda dan sangat tampan batinku.

“Apakah dia sudah menikah?” Tanya Jieun tiba-tiba.

Aku tergelak, “Kenapa aku harus memperhatikan apakah dia sudah menikah atau belum?’

“Karena kau harus belajar melepaskan diri dari Myungsoo.” Jieun mengedipkan sebelah matanya, “Pemilik cafe itu menyapamu, dan dia masih muda, siapa tahu dia juga tampan.”

“Dia tampan.” Gumamku akhirnya.

“Nah! Mungkin dengan mencoba membuka lembaran baru kau bisa menyembuhkan lukamu.”

“Tidak.” AKu mengernyitkan kening dengan pedih, “Semua lelaki sama, Jieun. Mereka selalu bilang bahwa mereka adalah pecinta sejati. Tetapi di sisi lain mereka mudah berpindah hati.”

“Kau tidak bisa terus-terusan seperti itu, Jiy. Masih banyak lelaki di luar sana yang berjiwa baik dan setia.” Jieun menghela napas panjang, “Seperti pemilik cafe yang tampan itu, dia tampaknya baik, dan dia menyapamu, berarti dia ada perhatian kepadamu.”

“Tidak.” AKu menggelengkan kepalaku sambil terkekeh, “Mungkin itu memang sudah menjadi ciri khas cafe itu, bersahabat dengan pelanggannya, bahkan pelayannya pun ramah-ramah.” Tatapan mataku lalu berubah serius, “Aku tidak ingin membuka hatiku untuk lelaki manapun, Jieun, aku sudah dikecewakan dan bagiku semua lelaki itu sama, mereka adalah pengkhianat.”

Aku meyakini kata-kataku. Pengalamanku dengan Myungsoo sudah membuktikan semuanya. Aku tidak akan pernah percaya kepada laki-laki lagi, apalagi lelaki yang luar biasa tampannya seperti pemilik cafe itu kemarin. Lelaki setampan itu pastilah pemain perempuan, karena dengan ketampanannya dia bisa mendapatkan banyak perempuan yang dengan sukarela mau bertekuk lutut di bawah kakinya.

***

Tetapi malam itu aku tidak bisa tidur lagi, aku sudah mencoba berbaring tetapi hanya berguling bolak-balik di atas ranjang. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kawasan tempat tinggalku cukup aman dan ramai untuk keluar di malam hari.

Lagipula Cafe itu terletak begitu dekat, di seberang kompleks apartemenku….

Tanpa terasa aku sudah berjalan ke sana, memasuki cafe itu. Pelayan setengah baya yang sama yang menyambutku.

“Anda ingin pesan apa?” Lelaki itu menyapa dengan ramah ketika aku duduk di pojok yang rindang dengan dekorasi taman yang menyejukkan.

Aku tersenyum, “Tidak, malam ini aku ingin kopi.”

“Apakah anda akan bergadang untuk menyelesaikan pekerjaan anda?” Pelayan itu melirik ke arah laptop yang kuletakkan di meja di depanku.

Aku terkekeh, “Aku seorang penulis dan aku dikejar deadline.”

“Penulis?” Pelayan itu tampak tertarik, “Penulis novel?”

Aku menganggukkan kepalaku, “Ya. Novel percintaan.”

“Ah.” Pelayan itu terenyum penuh arti, “Saya sudah menduganya, itu sesuai dengan penampilan anda yang lembut.”

“Terimakasih atas pujiannya.” Gumamku sambil tertawa, mulai membuka laptopku di atas meja itu, “Mungkin aku akan di sini sampai pagi.”

“Anda tidak tidur?”

“Pekerjaanku kan penulis, aku bisa begadangan semalaman dan tidur besok pagi.” Aku tergelak, “Semoga di sini diperbolehkan duduk sampai malam.”

“Tentu saja.” Pelayan itu mengedipkan sebelah matanya, “Asal anda terus mengisi cangkir kopi anda setiap dua jam, anda boleh duduk di sini selamanya.” Candanya sambil tertawa, “Saya akan mengambilkan pesanan anda, dan karena sepertinya anda akan menjadi pelanggan kami, anda boleh memanggil saya Leeteuk.”

Aku tersenyum menanggapi keramahan pelayan itu, “Gomawoyo, Leeteuk ahjussi.” Gumamku lembut.

***

Hampir pukul tiga pagi dan aku masih menulis di sudut yang sama, aku sedang menulis adegan sedih, perpisahan antara dua tokohnya karena kesalahpahaman, dan itu sesuai dengan perasaanku sekarang, karena itulah jemariku mengalir lancar.

Tiba-tiba ponselku berkedip-kedip, membuatku mengernyitkan kening.

Siapa yang menelepon pagi-pagi begini? 

Kuambil ponselku dan memucat ketika melihat nama yang tertera di sana.

Myungsoo…

Aku meletakkan ponsel itu di meja dan membiarkannya. Tetapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti, begitu mengganggu. Aku mendesah kesal, mood menulisku langsung hilang begitu saja melihat nama Myungsoo di layar itu.

Dan meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya, ponsel itu terus menerus bergetar tak tahu malu, seolah Myungsoo tidak akan menyerah sebelum aku mengangkatnya.

Akhirnya setelah menghela napas panjang, aku mengangkat ponsel itu.

“Ada apa Myungsoo?” gumamnya kesal.

“Jiyeon, akhirnya.” Suara Myungsoo terdengar lega di seberang sana, “Aku datang ke rumahmu dan orangtuamu bilang bahwa kau pergi keluar kota. Kau kemana?”

“Sudah bukan urusanmu lagi kan?” Jawabku dingin.

“Astaga Jiyeon. Sebegitu kejamnyakah kau padaku? Apakah kau pergi meninggalkan kota ini gara-gara aku?”

Kenapa pula Myungsoo harus bertanya? Tentu saja aku melakukannya karena dirinya, aku sudah muak, bahkan untuk mengetahui bahwa aku menghirup udara yang sama dengan laki-laki itu, karena itulah aku pindah.

“Aku rasa apapun alasanku adalah urusanku.” Aku bergumam, “Dan aku harap kau tidak menggangguku lagi.”

“Jiyeon… sayang… dengarkan aku… kau pindah kemana sayang? Orangtuamu tidak mau memberitahukan kepadaku, dan aku mencemaskanmu.”

“Aku baik-baik saja.” Aku menguatkan hati, merasakan mataku berkaca-kaca, lalu langsung kumatikan ponselnya.

Aku terpekur cukup lama di depan laptop, menatap hampa kepada tulisanku yang masih setengah jadi. Saat ini yang aku lakukan adalah membuat kisah tragedi, dengan akhir yang tragis dan memilukan untuk tokoh-tokohnya, kisah menyedihkan yang sama seperti yang sekarang aku alami.

***

Yifan POV

Aku memperhatikan Jiyeon dari dalam ruang kerjaku. Tentu saja Jiyeon tidak menyadarinya, ruang kerjaku terletak di lantai dua, di atas tangga dengan kaca yang gelap yang didisain satu sisi, dimana aku bisa dengan leluasa mengawasi seluruh bagian cafe milikku dan orang dari luar tidak akan bisa melihat menembus ke dalam.

Aku tidak pernah merasakan ketertarikan seperti ini pada perempuan manapun. Tetapi semalam, ketika kebetulan aku sedang berdiri di tempat ini, tempat yang sama, mengawasi cafeku, aku melihat perempuan itu masuk, menatap keraguan perempuan itu, dan entah kenapa ada sesuatu yang mendorongku untuk mendekati perempuan itu.

Padahal penampilan perempuan itu sederhana, dia mengenakan rok panjang dan kemeja warna polos yang membungkus tubuhnya yang mungil. Tidak ada yang istimewa dan heboh dari penampilannya, rambutnya dikuncir kuda sekenanya, dan perempuan itu tidak berdandan, tetapi aku tetap saja tidak bisa melepaskan pandanganku dari perempuan itu.

Bahkan kemudian aku tidak bisa menahan diri untuk menyapa perempuan ini, ingin melihat lebih dekat. Aku tidak pernah menampakkan diriku di depan pelanggan. Aku selalu bersembunyi di balik dinding kaca gelap yang misterius, hanya Leeteuklah yang aku percaya sebagai tangan kananku. Aku memiliki jaringan cafe dan hotel di seluruh kota ini, tetapi Garden Cafe adalah favoritku, tempat inilah satu-satunya dari seluruh tempat yang kumiliki yang membuatku merasa nyaman.

Dan kemudian aku menemukan perempuan ini, perempuan yang langsung merenggut hatiku, ketika berucap halo dan menyambut uluran tanganku, lalu mengatakan namanya. Jiyeon. Aku mencatat nama itu dengan penuh rahasia, jauh di dalam hatiku yang kelam.

TBC

.

.

.

.

.

Haiiii maaf karna baru muncul lagi setelah sekian lama…

Untuk sementara Wicked Lovely belum bisa saya publish. Jadi sebagai gantinya saya post cerita ini. Ini sudah pernah saya post diakun lama saya.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “You’ve Got Me from Hello (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s