You’ve Got Me from Hello (Part 2)

You’ve Got Me from Hello

(Part 2)

7846b13dgw1ekgeus21lcj20c80ic75z_副本

(Again, this story is a remake version of Santhy Agata’s novel with the same title. I do not own this story and I do not mean to plagiarize her story. I hope you can enjoy this story ^^ comment is very welcomed.)

Cast:

Park Jiyeon

Wu Yifan or/and Kris

Lee Jieun

Leeteuk

Choi Sulli

 

Part 2

Ada beberapa hal yang bisa dimaafkan dalam hubungan percintaan, tetapi pengkhianatan bukanlah salah satunya….

 

Jiyeon POV

Ponselku bordering, setelah melihat bahwa eomma yang menelponku, aku mengangkatnya.

“Jiyeon?” Eomma langsung berbicara seperti kebiasaannya, “Eomma harus memperingatkanmu.”

“Memperingatkan apa tentang apa Eomma?” Aku mengeryit dan langsung waspada, eomma tidak pernah berucap dengan nada seserius ini sebelumnya.

“Myungsoo.” Suara eomma setengah berbisik, “Dia datang kemari pagi ini dan memohon pada eomma untuk memberikan informasi di mana dirimu.”

Eomma tidak memberitahukannya kepadanya kan?” Aku langsung panik. Percuma aku pindah ke lain kota kalau pada akhirnya Myungsoo mengetahui aku ada di mana.

“Tentu saja tidak chagi.” Eomma menghela napas panjang, “Tetapi sepertinya dia tidak menyerah, dia bilang pada akhirnya kalau eomma tidak mau mengatakan dimana dirimupun, dia akan tetap tahu karena dia akan menghubungi kantor penerbitmu.”

Aku mengernyit kesal. Kalau Myungsoo menghubungi kantor penerbit, tentu saja Myungsoo akan tahu dimana aku berada. Aku mendesah kesal tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya tidak menyangka kenapa Myungsoo sekeras kepala ini mengejarku. Apakah lelaki itu tidak bisa menerima bahwa aku tidak bisa memaafkannya?

Eomma, gomawo sudah memperingatkanku. Ada kemungkinan bahwa dia sudah tahu dimana aku berada, aku menginformasikan kepindahanku dan alamat baruku kepada penerbit. Aku akan bersiap kalau Myungsoo nekat dan mendatangiku.”

Gwenchana Jiyeon-a?” Eomma tampak cemas di seberang sana, membuat aku tersenyum haru.

Gwenchana Eomma, aku bisa bertahan.” Jawabku mencoba sekuat mungkin meskipun dalam hati meragu.

***

Yifan POV

Perempuan itu datang lagi malam ini, dan memesan segelas anggur untuk teman menulisnya. Aku mengernyit, dari info yang aku dapat dari Leeteuk ahjussi, Jiyeon adalah seorang penulis novel romance. Tetapi sepertinya Jiyeon sedang murung karena beberapa kali perempuan itu hanya menghela napasnya di depan laptopnya, lalu mengawasi layar laptop itu dengan tatapan mata kosong.

Aku merasa seperti pengintip yang memalukan ketika berdiri di depan kaca balkon atas dan mengamati Jiyeon seperti ini, tetapi aku tidak bisa menahan diri. Sudah beberapa hari ini Jiyeon selalu datang, dan setiap pukul sembilan lalu akan menulis sampai dini hari sebelum kemudian pulang ketika terang menyentuh langit. Aku tidak bisa menahan ketertarikanku untuk mengintip ke bawah, menanti kedatangan Jiyeon, dan sejauh ini, perempuan itu tetap datang.

Ada keinginan untuk mendekati perempuan itu, tetapi aku menahan diri, takut kalau aku terlalu mengganggu, Jiyeon akan merasa segan dan kemudian tidak akan datang lagi.

“Perempuan itu datang lagi.” Leeteuk ahjussi yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruang kerjaku bergumam sambil tersenyum penuh pengertian, mengamatiku. “Kau sepertinya sangat tertarik kepadanya.”

“Kenapa kau bisa berpikiran begitu?” Aku mundur dari kaca itu dan melangkah menuju kursi kerjaku. Leeteuk ahjussi adalah tangan kananku, orang kepercayaanku, lelaki itu dulu adalah pegawai setia appa, dan orang yang paling dipercaya oleh appa. Setelah appa meninggal dan aku mewarisi jaringan kerajaan bisnis hotel dan restoran ini, Leeteuk ahjussi-lah yang selalu membantuku, memberi pendapat dari sisi pengalaman, melengkapi apa yang tidak aku miliki.

Karena itulah aku menghadiahi Leeyeuk ahjussi cafe ini, tetapi lelaki setengah baya itu menolaknya, dia hanya ingin tinggal di sebuah apartemen mini di bagian atas cafe dan tetap ingin bekerja menjadi pelayan meskipun aku sudah melarangnya. Tetapi Leeteuk ahjussi bilang bahwa menjadi pelayan cafe ini bisa membantunya tetap hidup, dia kesepian dan bercakap-cakap dengan para pelanggan bisa menyembuhkan sepinya, karena itulah aku mengizinkan Leeteuk ahjussi menjadi pelayan di Garden Cafe ini.

Leeteuk ahjussi meletakkan kopi panas untukku dan tersenyum, “Kau menyapanya malam itu, kau bahkan tidak pernah menyapa pelanggan lain sebelumnya.”

Aku tersenyum kecut, rupanya aku terlalu mudah terbaca oleh Leeteuk ahjussi, “Tetapi bukan berarti aku tertarik kepadanya.”

“Oh ya?” Leeteuk ahjussi mengangkat alisnya, “Sebelumnya kau tidak pernah menginap di cafe ini.” Seperti halnya Leeteuk ahjussi, aku mempunyai apartemen sendiri di sisi lain di bagian atas cafe ini, tetapi aku memang jarang memakainya, karena aku selalu pulang ke rumahku, kawasan hijau dan sejuk di perbukitan pinggiran kota, dekat dengan area resor hotelku. “Dan aku hitung, sejak kau menyapa perempuan itu, kau selalu datang kemari setiap malam, tanpa absen.”

Aku terkekeh mendengar perkataan Leeteuk ahjussi, “Aku memang tidak bisa membohongimu ya.”

“Aku sudah mengenalmu sejak kecil.” Leeteuk ahjussi tertawa, “Kau tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun.” Leeteuk ahjussi berdehem, “Begitu juga ketika dengan Sulli.”

Aku tertegun ketika nama Sulli disebut, wajahku sedikit memucat, lalu aku memalingkan muka dengan murung.

“Tetapi pada akhirnya semua akan tetap sama bukan?” Gumamku sedih, “Seberapa besarpun aku tertarik kepada perempuan itu, aku tidak akan pernah bisa memilikinya.”

“Anda bisa memilikinya kalau anda mampu mengambil keputusan tegas.”

“Tidak.” Aku mengernyit kesakitan, “Aku memang bukan orang baik. Tetapi aku masih punya hati.”

Tuhan tahu aku sudah tidak mencintai Sulli, tunanganku. Tetapi aku masih punya hati. Kesalahanku harus dibayar, meskipun perasaanku yang dikorbankan.

***

“Yifan?” Suara lembut Sulli menggugahku dari lamunanku, membuat aku menoleh dan langsung tersenyum lembut.

Ne chagi?”

Sulli menyelipkan rambut panjangnya yang indah di belakang telinganya, dan tersenyum lembut.

“Ada apa? Kau tampak begitu murung.”

Aku mendesah, “Ah..iya… mungkin aku sedikit tidak enak badan.” Itu yang sesungguhnya. Aku sungguh merasa tidak enak badan, aku tidak suka berada di sini. Tetapi aku harus, setiap akhir pekan setelah kesibukan kantor berakhir, aku harus berada di sini, menghabiskan waktu bersama Sulli, tunanganku. Tetapi kali ini pikiranku mengembara, ke cafe itu, tempat perempuan bernama Jiyeon pasti sudah datang dan menulis di sana sampai dini hari.

Aku tidak sabar untuk segera pergi dari sini dan menuju Garden cafe, mengamati Jiyeon dari kejauhan.

“Pulanglah.” Bisik Sulli lembut, penuh pengertian, “Mungkin kau kelelahan dan butuh istirahat.”

Sulli selalu seperti itu, begitu lembut dan penuh pengertian. Apapun yang aku lakukan dia selalu mengerti. Apalagi yang sebenarnya aku cari? Aku seharusnya berusaha keras untuk memaafkan dan kembali mencintai. Tetapi setiap melihat Sulli, aku teringat akan pengkhianatan itu lalu merasa begitu getir.

Ada beberapa hal yang bisa dimaafkan dalam hubungan percintaan, tetapi pengkhianatan bukanlah salah satunya….

Aku menatap Sulli dengan senyuman lembut, kemudian menarik Sulli mendekat dan mengecup keningnya.

“Kau mau kuantar masuk?”

“Tidak Yifan, pulanglah, aku bisa masuk sendiri.” Jawab Sulli tanpa kehilangan senyumnya.

Aku menghela napas, lalu menyentuh rambut Sulli dengan lembut, “Gomawo Sulli-a, sampai ketemu lagi besok.”

Sulli mengangguk, memundurkan kursi rodanya dan memutarnya memasuki rumah, aku menunggu sampai pintu rumah itu tertutup, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.

***

Dalam perjalanan pulang dari rumah Sulli, aku merenung. Dulu semuanya baik-baik saja. Aku melabuhkan cintaku kepada Sulli, dan memutuskan untuk melamarnya. Tetapi kemudian aku larut, sibuk dalam pekerjaan dan lupa untuk memberikan perhatian kepada perempuan itu.

Sulli yang kehilangan cintaku, akhirnya memutuskan untuk mencari perhatian dari lelaki lain, dan dia mendapatkannya dari sosok lelaki bernama Taemin, yang ternyata adalah seorang bajingan.

Bajingan itu merenggut kegadisan Sulli yang sedang rapuh karena aku abaikan, lalu kemudian meninggalkannya begitu saja dalam kondisi hamil.

Masa-masa itu sangat menyakitkan bagiku, ketika Sulli datang kepadaku dan mengakui semuanya, tentu saja aku marah besar, kami sedang berkendara di mobil, di tengah hujan deras ketika Sulli mengakui semuanya kepadaku, aku yang tengah marah, menginjak gas begitu kencang untuk meluapkan emosiku hingga kehilangan kewaspadaanku, kami lalu mengalami kecelakaan fatal, kecelakaan yang membuat Sulli keguguran anak hasil hubungannya dengan Taemin, dan tidak bisa berjalan lagi selamanya.

Aku sendiri hanya mengalami lecet-lecet, aku mendengar kenyataan bahwa Sulli akan lumpuh dan merasakan penyesalan yang luar biasa. Akulah penyebab semua ini, Sulli menjadi lumpuh seumur hidup karena diriku, karena akulah mereka mengalami kecelakaan parah itu. Padahal perselingkuhan Sulli kalau ditelaah adalah karena kesalahanku, aku yang terlalu sibuk dengan bisnisku sehingga melupakan Sulli, bahkan aku hampir tidak punya waktu untuk tunanganku itu, jadi wajar kalau Sulli sampai mengais perhatian dari lelaki lain.

Lalu aku memutuskan bahwa aku harus bertanggung jawab, dan pagi itu pula ketika Sulli sadarkan diri dari kecelakaan, menangis ketika mengetahui bahwa dia tidak bisa berjalan lagi, aku memeluknya dan mengatakan bahwa aku akan selalu mendampingi Sulli selamanya, aku memaafkan kekhilafan Sulli dan bertekad untuk melangkah ke depan, meninggalkan yang lalu.

Aku mengira itu akan mudah. Toh aku mencintai Sulli sebelum kejadian itu, aku kira aku hanya perlu memaafkan dan kemudian menjalani keadaan kami seperti sebelumnya. Tetapi kemudian aku merasakan perasaanku mulai terkikis dan musnah, setiap menatap perempuan cantik itu, lalu menyadari kenyataan bahwa Sulli telah mengkhianatinya dan membiarkan dirinya disentuh oleh lelaki lain sampai sedemikian jauhnya.

Hari demi hari berlalu, sampai di titik cintaku musnah begitu saja, aku menjalani hariku dengan Sulli hanya karena aku merasa harus melakukannya. Aku yakin aku bisa melakukannya, toh hatiku sudah mati rasa.

Sampai kemudian aku melihat Jiyeon, dan terpesona lalu tertarik kepadanya.

Leeteuk ahjussi memang benar, aku tidak pernah tertarik kepada perempuan lain sebelumnya. Begitu kuat, begitu memabukkan, membuatku tak bisa memikirkan yang lain, membuatku ingin mencoba mendekat bahkan meskipun aku sadar bahwa aku tidak bisa memiliki perempuan itu.

Sejenak aku ragu, aku berada di persimpangan jalan, satu menuju ke arah rumahku dan yang lain menuju ke arah Garden Cafe. Pada akhirnya aku mengarahkan mobilku ke arah Garden Cafe. Aku ingin melihat Jiyeon.

***

Third person POV

Ketika Yifan memasuki pintu cafe itu, matanya mencari di sudut yang biasa, dan menemukan Jiyeon. Perempuan itu sedang mengetik seperti biasa ditemani segelas anggur merah yang tinggal tersisa setengahnya.

Sejenak Yifan ragu, tetapi kemudian dia mendekat,

“Aku heran kenapa kau belum tidur jam segini dan memilih untuk menulis.”

Jiyeon langsung mendongak mendengar sapaannya, ada tatapan terkejut di sana ketika melihat Yifan berdiri di depannya, tetapi kemudian dia tersenyum lembut.

“Aku punya penyakit susah tidur akhir-akhir ini”

Yifan tersenyum, “Kalau kau ingin mengantuk, minumlah susu putih aku dengar itu bisa membuat kita nyaman dan terlelap.”

“Susu putih?” Jiyeon mengeryit, “Aku tidak suka susu putih, rasanya terlalu gurih dan menguarkan aroma yang aneh di hidung, membuatku mual.”

Kali ini Yifan benar-benar terkekeh geli, “Aku baru kali ini mendengarkan deskripsi yang begitu menarik tentang susu putih.” Godanya, “Apa yang sedang kau tulis?” Tanpa sadar Yifan menarik kursi dan duduk di depan Jiyeon.

“Roman percintaan.” Pipi Jiyeon memerah, menyadari bahwa dia ditatap oleh lelaki yang begitu tampan, dengan mata cokelat muda dan rambut berantakan yang tampak sangat menggoda. Tetapi kemudian dia mengeraskan hati.

Semakin tampan seorang lelaki berarti semakin berbahaya dirinya. Gumamnya dalam hati.

“Roman percintaan? Dan sepertinya kau sedang kehabisan ide?”

Bagaimana lelaki ini tahu?

Jiyeon mengangkat bahunya, “Tokoh utama di ceritaku saling membenci, dan aku merasakan dorongan kuat untuk membiarkannya seperti itu.”

Yifan terkekeh, “Tetapi kau tidak bisa membiarkannya seperti itu?”

“Tidak bisa.” Gumam Jiyeon penuh penyesalan, “Karena ini cerita roman, dan cerita roman karanganku harus berujung Happy Ending.”

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa harus Happy Ending?” Yifan menatap ke arah Jiyeon dengan tajam, membuat Jiyeon sedikit salah tingkah.

“Karena di kehidupan nyata kadangkala Happy Ending bukanlah milik kita.” Ingatan Jiyeon langsung melayang kepada Myungsoo dan dia tersenyum pahit, “Karena itulah setidaknya novelku bisa menjadi pengobat luka hati.”

“Kau benar-benar penulis novel yang baik dan memikirkan perasaan pembacanya.” Gumam Yifan sambil tersenyum, yang ditanggapi Jiyeon dengan mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin menyajikan kisah yang indah untuk pembacaku.”

“Misi yang luar biasa baik, dan aku yakin itu bisa membantu semua orang, karena kadang di dunia nyata ini kita tidak selalu berakhir indah. Tetapi kau harus selalu mengingat, akan ada pelangi sehabis badai.” Yifan bangkit dari duduknya dan menganggukkan kepala sopan, “Silahkan lanjutkan menulis, maaf atas gangguanku.”

***

Yifan sedang mengenakan dasinya untuk berangkat ke kantor pusatnya di area resor hotelnya ketika pintu apartement pribadinya di lantai dua cafe itu diketuk. Dia mengernyitkan keningnya, hari masih pagi. Cafe di bawah memang buka duapuluh empat jam, tetapi yang pasti tidak akan ada yang berani mengetuk pintunya sepagi ini, bahkan Leeteuk pun tidak akan melakukannya.

Dengan jengkel sekaligus ingin tahu, Yifan membuka pintu ruang kerjanya dan menemukan Kris berdiri di sana. Saudara kembarnya.

“Kenapa kau kemari pagi sekali?” Yifan mengernyit, menatap dongsaengnya ingin tahu. Meski mereka kembar tetapi Yifan lebih dulu lahir 3 menit sebelum dongsaeng-nya, karena itulah dia selalu menganggap dirinya sebagai hyeong. Lagipula, secara kepribadian, dia memang lebih dewasa dibandingkan Kris. Kris terlalu berpikiran bebas, dia bahkan tidak mau memegang perusahaan warisan appa mereka dan memilih mengejar impiannya menjadi seorang pelukis. Kadang Yifan merasa iri kepada Kris karena kemampuannya untuk merasa bebas dan lepas dari tanggung jawab.

Yifan sendiri tidak bisa. Perusahaan appa-nya harus dikendalikan, dan karena Kris tidak bisa diandalkan, maka dia mengambil alih seluruh tanggung jawab itu di pundaknya.

Mungkin dia memang ditakdirkan untuk selalu memikul tanggung jawab terhadap orang lain di pundaknya, pikirnya pahit.

Sementara itu Kris tampak tidak peduli, dia melangkah masuk ke apartemen Yifan dan membanting tubuhnya di sofa.

“Aku sedang menerima proyek melukis untuk desain kantor di dekat resor kita. Pekerjaan itu baru beres tadi pagi dan memutuskan untuk berkunjung ke rumahmu pagi ini sekaligus menumpang tidur, tetapi kata pealayan sudah berhari-hari kau tidak ada di sana dan tidur di Garden Cafe.” Kris merengut, “Jadi aku terpaksa menyusul kemari.”

Yifan meraih jasnya dan melirik dongsaengnya tanpa ekspresi, “Kau bisa menumpang tidur di kamar.” Gumamnya tenang, “Aku harus bekerja.”

“Kau tampak tidak sehat.” Gumam Kris ketika mengamatinya, “Dan kurus. Apakah memimpin perusahaan ini membuatmu begitu sibuk sampai lupa mengurus dirimu?”

Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu, hampir enam bulan lebih, itu karena Kris memutuskan ke Kanada, untuk mengunjungi guru melukisnya di sana. Dongsaeng kembarnya itu baru pulang sebulan yang lalu, tetapi mereka sama-sama sibuk hingga sekaranglah pertemuan mereka yang pertama setelah enam bulan berlalu.

Yifan sendiri mengamati dongsaeng-nya yang tampak begitu segar dan tanpa beban, lalu mengernyit.

“Salah satu dari kita harus menjalankan perusahaan ini.”

“Kau tidak perlu melakukannya, kau tahu itu.” Kris memundurkan tubuhnya dan menyandarkan dirinya di sofa, “Perusahaan itu bisa saja kau serahkan kepada para tangan kanan ayah, selama ini bukankah mereka juga yang menjalankannya?”

“Tetapi perusahaan ini tetap butuh seseorang untuk mengendalikannya, Kris.” Yifan bergumam tajam. “Aku bukan orang bebas yang bisa melepaskan tanggung jawab seperti dirmu.” Sindirnya.

Kris malahan tertawa, “Dan kaupun memikul tanggung jawab itu, ciri khas seorang Yifan.” Wajahnya berubah serius, “Sama halnya seperti yang kaulakukan kepada Sulli.”

“Aku tidak mau membicarakannya.” Yifan langsung memalingkan muka, berusaha memutus percakapan. Mereka pasti akan berakhir dengan adu argumentasi ketika membicarakan Sulli.

Kris adalah salah satu orang yang menentang keras ketika Yifan melanjutkan pertunangannya dengan Sulli, dia tahu tentu saja tentang pengkhianatan Sulli dan menganggap Yifan bodoh karena memikul tanggung jawab terhadap Sulli, padahal kecelakaan yang dialami Sulli seharusnya bukanlah kesalahan Yifan.

“Tidakkah kau bertanya-tanya bahwa sebenarnya ada jodohmu di luar sana?” Kris terus mengejar, tidak peduli akan ekspresi membunuh yang dilemparkan Yifan kepadanya, “Tidakkah kau ingin tahu bahwa pasangan jiwamu sedang menunggu jauh di sana? Menanti untuk kau temukan? Kalau kau terus terpaku pada Sulli, yang jelas-jelas tidak kau cintai, kau akan kehilangan kesempatanmu untuk menemukan jodohmu yang sesungguhnya.”

“Aku tidak menyangka kau bisa begitu puitus.” Yifan berusaha menghindar dari bahasan tentang Sulli. Dia sedang tidak mau memikirkannya.

“Aku seorang seniman, meskipun aku pelukis, tetap saja aku bisa puitis.” Kris tertawa, “Berbeda dengan dirimu yang begitu kaku.” Wajahnya melembut, “Aku hanya ingin kau berhenti menyiksa dirimu, Hyeong.”

Apakah sejelas itu?

Yifan berusaha memasang wajah datar, “Kalau kau ingin aku sedikit lebih baik, bantulah aku di perusahaan.”

“Tidak.” Kris langsung menjawab cepat, “Berkemeja rapi, memakai jas dan dasi bukanlah gayaku, aku bisa mati bosan kalau bekerja di kantor.” Dengan santai dia melangkah berdiri dan menuju kamar Yifan, “Selamat menikmati harimu.” Gumamnya santai lalu menghilang ke dalam kamar.

***

Jiyeon POV

Aku sedang melangkah keluar dari pintu putar apartemen, hendak menuju ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan sebagai pengisi kulkasku ketika langkahku membeku di trotoar.

Mobil warna biru itu dengan pelat nomor yang sangat aku kenal.

Itu mobil Myungsoo…

Dan benar saja, lelaki itu melangkah keluar dari mobilnya dan berdiri tepat di depanku.

“Hai Jiy.” Sapanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami, “Apa kabarmu? Aku kemari untuk mengunjungimu, aku merindukanmu.” Bisiknya lembut.

Bisikan itu dulu pernah membuat hatiku hangat, tetapi sekarang tidak lagi, aku menggertakkan gigi dengan marah.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Myungsoo mengangkat bahunya, “Mengunjungimu tentu saja, kau pikir apa? Aku harap setelah kau puas dengan tingkah kekanak-kanakanmu kita bisa bercakap-cakap dengan kepala dingin.”

Tingkah kekanak-kanakannya, katanya?

Aku menahan diri untuk maju dan menampar Myungsoo. Berani-beraninya lelaki itu muncul di depanku seolah tidak bersalah dan mengganggu ketenangan hidupku lagi.

“Aku tidak mau bercakap-cakap denganmu. Minggir.” Gumamku marah, ketika Myungsoo dengan sengaja menghalangi jalanku di trotoar yang sempit itu.

Tetapi Myungsoo tidak bergeming, dia malahan semakin sengaja menghalangi aku lewat.

“Kita harus bicara Jiy, ayolah hentikan sikap kekanak-kanakanmu itu dan berbicaralah dengan dewasa.”

“Aku rasa aku sudah mengambil keputusan dewasa dengan mengakhiri pertunangan kita, menyingkirlah Myungsoo dan biarkan aku lewat.”

Aku berusaha mencari jalan melewati Myungsoo, tetapi karena lelaki itu menghalangi jalanku, aku merengut kepada Myungsoo dengan tatapann menghina, “Ah sudahlah!” Gumamku marah lalu membalikkan tubuh, hendak berbalik dan meninggalkan Myungsoo.

Sayangnya gerakanku kurang cepat, Myungsoo sudah meraih lenganku dan mencekaku.

“Dengarkan aku dulu Jiy, kau harus mendengarkan aku!” Seru Myungsoo mulai emosi, lelaki itu bahkan tidak peduli akan lirikan orang-orang di sekitar.

Aku malu, sungguh-sunggu malu, dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan cekalan tangan Myungsoo di lenganku, berusaha melepaskan diri dari Myungsoo, aku jijik, benci, dan sangat muak dengan laki-laki ini.

“Bisakah kau lepaskan perempuan itu? Tampaknya dia tidak mau berurusan denganmu.” Suara dingin seorang laki-laki membuat aku dan Myungsoo menoleh bersamaan.

TBC

Advertisements

You’ve Got Me from Hello (part 1)

You’ve Got Me from Hello

(Part 1)

7846b13dgw1ekgeus21lcj20c80ic75z_副本

Cast:

Park Jiyeon

Wu Yifan

Lee Jieun

Kim Myungsoo

Leeteuk

 

(Again, this story is a remake version of Santhy Agata’s novel with the same title. I do not own this story and I do not mean to plagiarize her story. Disini Myungsoo saya jadikan pemeran antagonis, bagi yang kurang suka saya minta maaf >< I hope you can enjoy this story ^^ comment is very welcomed.)

PART 1

Jiyeon POV

Apartementku masih berantakan, belum sempat kurapikan pakaian dan beberapa barang pribadi yang baru aku beli, sebuah televisi dan dispenser kecil. Untunglah apartement ini sudah menyediakan perabotan dasar seperti tempat tidur, sofa, dan dapur. Aku memutar bola mataku ketika menatap dapur itu, sepertinya aku butuh berkunjung ke supermarket terdekat, mengisi bahan makanan di kulkas, dan membeli beberapa peralatan memasak. Continue reading

Wicked Lovely (Part 4)

Wicked Lovely

wu-yi-fan_副本

“When you will be King of Summer she will be your queen. Of this your mother, Queen

Beira, has full knowledge, and it is her wish to keep you away from [her], so that her own

reign may be prolonged.”

Wonder Tales from Scottish Myth and Legend by Donald Alexander Mackenzie (1917)

 

 

Part 4

 

Featuring:

Park Jiyeon

Kris Wu

Krystal Jung

Kim Jaejoong

.

.

.

.

.

Disalah satu perumahan elit bergaya Victoria, dimana hanya orang-orang tertentu yang dapat tinggal disana, tak satupun orang yang memperhatikan bahwa ada sebuah rumah yang terlihat sangat berbeda. Perbedaan itu bahkan Nampak oleh mata manusia biasa. Namun bagi mereka yang dapat melihat, rumah itu sesungguhnya selalu tertutup oleh lapisan es salju, entah itu dimusim dingin seperti sekarang atau bahkan dimusim panas yang panas. Continue reading

We Got Married (Prologue)

We Got Married

(Prologue)

 

large (1)

Featuring:

Jennie Kim

Blackpink

.

.

.

 

Unnieeeeeeeee…

Seorang yeoja berlari dari arah pintu masuk dorm dengan tergesa. Ia terus berteriak memanggil unnie-nya sepanjang jalan. Tiga orang yeoja yang berada dalam dorm, unnie dari yeoja yang tengah heboh itu sudah tidak terkejut lagi dengan tingkah magnae itu.

“Ya! Nalalisa, wae irae?” Tanya seorang yeoja berambut hitam yang tengah memeluk anjing kesayangannya dalam pangkuan. Kedua yeoja lainnya hanya terdiam. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah magnae mereka yang ajaib. Continue reading

Wicked Lovely (Part 2)

Wicked Lovely

 87029f0fgw1enymx5uavtj20rs15owt5_%e5%89%af%e6%9c%ac

The Sleagh Maith or the Good People are terrified by nothing earthly so much as by cold iron. –The Secret Commonwealth by Robert Kirk and Andrew Lang (1893).

 

Chapter 2

 

Featuring:

Park Jiyeon

Kris Wu

Krystal Jung

Kim Jaejoong

 

.

.

.

Seorang gadis fairy bermata rusa berjalan menyebrangi ruangan club yang rame. Dia terlihat terlalu vulgar dan megagumkan disaat bersamaan. Matanya jauh lebih lebar dari ukuran normal, membuat kesan terkejut pada wajahnya. Jika dilihat secara kesuluruhan, dengan tubuhnya yang kurus kecil, membuatnya terlihat berharga dan innocent.

Continue reading

A Flashback

AA Flashback

son-na-eun-jo-malone-3_%e5%89%af%e6%9c%ac

Cast:

Kim Myungsoo

Park Jiyeon

 

“Let the rain wash away all the pain of yesterday.”

.

.

.

“Myungsoo-ah, kenapa kau membenci hujan?” Jiyeon menatapku dengan bertumpu pada kedua tangannya.

Aku dan tetangga baruku, jika masih bisa disebut baru, mengingat kami sudah 6 bulan bertetangga dan kami pun menjadi semakin akrab. Seperti saat ini. Kami menikmati latte di coffee shop di dekat tempatnya mengajar. Hujan turun dengan derasnya. Pada awalnya Jiyeon memaksa untuk pulang, berhujan-hujanan ria. Namun dengan tegas aku menolak. Entahlah. Aku kira kebencianku terhadap hujan mulai menghilang, namun sepertinya belum sepenuhnya menghilang. Continue reading